Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| Kotbah Minggu 3 Januari 2010 |
|
|
|
| Written by Andy |
| Tuesday, 19 January 2010 06:51 |
|
Tanggal : 03 Januari 2010. Nas : Yohanes 16 : 20 – 24.
DUKACITA MENDAHULUI KEMENANGAN
Injil Yohanes tidak menyajikan banyak ajaran normatif, misalnya: Etika, kecuali dalam percakapan perpisahannya dengan para murid dan dunia (Yoh.14-16). Hal ini disebabkan oleh karena tujuannya lebih bersifat teologis. Salah satu prinsip pokok yang diperlihatkan oleh Yohanes dalam kehidupan Yesus ialah kepatuhan-ketaatan pada kehendak Allah. Dia mengharapkan agar para pengikut-Nya tidak menuruti kehendaknya sendiri, atau kehendak dunia tetapi kehendak Dia yang mengutus-Nya. Dalam Yohanes 16:20-24, Yesus berkata bahwa Dia telah menyampaikan kepada murid-murid-Nya Firman yang disampaikan oleh Bapa kepada-Nya. Dia melihat jauh ke depan bahwa suatu saat Yesus akan kembali kepada Bapa-Nya dan tinggal sesaat lagi tinggal di antara para murid. Kata yang sangat penting di sini adalah kasih. Yesus mengingatkan para murid agar selalu bertekun dalam pengajaranNya untuk tidak hidup lagi menurut etika duniawi. Sebelum Yesus meninggalkan para murid dan dunia ini, Yesus telah menjanjikan bahwa Roh Kudus akan memimpin para murid-Nya ke dalam seluruh kebenaran (16:13). Hal ini sangat beralasan, karena akan terjadi pengucilan dan bahkan kematian menunggu para murid (16:2-3). Jika hal ini merupakan segi negatif, maka segi positifnya ialah bahwa Roh Kudus akan memberikan pedoman kebenaran ke dalam kesadaran mereka. Dunia dan para murid-Nya tidak akan ditinggalkan tanpa adanya pegangan serta pedoman hidup yang kokoh. Bagian ini adalah monolog yang terpanjang dalam Injil Yohanes. Monolog ini berisi kebencian dunia pada Yesus, kata-kata Yesus tidak diterima dunia, begitu juga para pengikut-Nya akan dibenci, dianiaya, disiksa, tidak diterima oleh dunia. Penjelasan. Ayat 20-21: bagian ini sangat nyata mengandung unsur ketaatan atau menguji ketaatan-ujian iman, bahwa Yesus telah dibenci, disiksa bahkan ditolak dunia. Maka demikian halnya dengan para murid dan pengikut-Nya akan dibenci, dianiaya, tidak diterima oleh dunia. Dunia menolak untuk mempercayai Injil dengan berbagai dalih dan teori-teori duniawi. Para murid dan jemaat mula-mula akan “menangis”-”meratap”, tetapi dunia akan bergembira, sisi penolakan secara sengaja kepada Injil itu sendiri. Namun praktek pembinasaan, pembatasan itu tidak akan menjadi titik krisis atau kematian Injil, karena dukacita itu akan berubah menjadi sukacita (bdk “semakin dibabat semakin merambat”). Keadaan kelam, suram, menakutkan dan duka itu hanya bersifat sementara, tetapi tekanan pada pengharapan itu sangat jelas dalam kedua ayat di atas. Hal ini bertujuan agar iman para murid dan jemaat Kristen mula-mula tidak berantakan di saat suasana dan kondisi menakutkan serta mencekam benar-benar terjadi. Ketakutan dan kesedihan orang-orang yang percaya kepada Berita Keselamatan (Injil) Allah di satu sisi dapat menjadi bumerang gerakan untuk meninggalkan Allah dan para murid berpaling dari pada-Nya karena faktor tekanan internal dan eksternal komunitas para murid dan jemaat Yohanes itu sendiri. Hal ini mendorong Tuhan Yesus meyakinkan para murid dan pengikut-Nya: “tinggal sesaat saja kamu tidak melihat aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku” (bdk.ayat.l9). Jika dunia dan orang-orang yang berpaling dari pada-Nya membenci-Nya, maka mereka juga membenci Allah Bapa. Dalam hal ini, Yesus mempertegas kesatuan sempurna Yesus dengan Bapa, kata-kataNya dan pekerjaan-Nya adalah milik Bapa (bdk.ayat 10-11) Ayat 22-23: bagian ini menunjukkan bahwa peristiwa penolakan dunia atas Injil telah jelas, Yesus sendiri telah berbicara atas murid-muridNya dan jemaat Yohanes, bahwa dukacita telah mendahului kemenangan. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan para murid sebagai yatim piatu. Roh Kudus akan diam dalam mereka dan tetap tinggal bersama para murid. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia berbicara atas nama Bapa dan Bapa memberi kesaksianNya melalui Kitab Suci. Dengan kata lain, hal itu mempertegas bahwa seluruh ajaranNya tidak berasal dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa yang mengutusNya ke tengah dunia. Maka “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu”. Ayat 24: bagian ini mempertegas otoritas wibawa pengajaran Yesus sebagai unsur yang sangat penting kepada murid-muridNya. Kepergian Yesus, yang diikuti oleh penganiayaan seharusnya tidak membuat para murid sedih, takut dan kecewa, karena kepergian Yesus sebagai proses keselamatan dunia dan orang-orang yang percaya kepadaNya. Harapan Yesus dalam ayat ini mempertegas agar para murid tetap memiliki sikap hidup berpengharapan (optimisme) tidak pesimistis.
Aplikasi. 1. Umumnya selalu ada alasan yang mendasar seseorang membenci orang lain, namun tidak demikian dengan situasi yang dihadapi oleh Yesus dan murid-muridNya. Tidak ada alasan dunia untuk membenci Yesus, menganiaya dan menyiksa murid-muridNya. Dalam konteks ini, Mazmur 69:5 mengatakan “Orang-orang membenci aku tanpa alasan”. Namun dalam konteks nas di atas, dunia ternyata menolak Injil dengan berbagai dalih dan teori-teori dunia yang tidak masuk akal dan cenderung membinasakan Injil itu sendiri. Namun satu hal yang pasti bahwa Injil semakin bertumbuh, berkembang dan bertumbuh di saat tertekan, tercekam, teraniaya, tersiksa dan terbelenggu. Kuasa Roh Kudus itu tak terpatahkan oleh kuasa dunia sekali pun. 2. Gereja di saat tertekan dan terkerdilkan oleh dunia, seakan ditinggalkan Allah, seakan tidak diperhatikan Allah, di saat itulah Allah meminta kita memohon segala sesuatu, meminta segala sesuatu maka kita akan menerima, maka penuhlah sukacita kita. Proses pengujian iman itu tak pernah akan berhenti selama dunia ini belum lenyap, sebelum langit dan bumi baru muncul. Penganiayaan demi penganiayaan, siksaan demi siksaan bahkan anti Kristus itu akan selalu hadir ditengah-tengah dunia ini. Sebagai orang-orang beriman, kita jangan terkalahkan, jangan putus asa, karena dukacita mendahului kemenangan. 3. Nas di atas menuntun dan mengarahkan kita memasuki tahun baru 2010, mari kita jadikan tahun ini tahun berkat dan rahmat bagi saya dan saudara, bagi kita orang-orang beriman. Semoga tahun ini hidup saya dan saudara, hidup kita semua lebih baik dari tahun kemarin. Camkanlah: Allah tidak pernah meninggalkan kita yatim-piatu, seperti tertulis dalam Matius 28:20b “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Maka kita pun jangan mencoba-coba meninggalkan Allah dengan berbagai dalih (alasan-alasan), karena akan tiba waktunya, kita tak punya kesempatan menghampiri Dia. Maranatha.Amin.
Pdt. Martin Hutabarat, STh
|
| Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 08:54 |





