Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Kotbah Minggu 24 Januari 2010 PDF Print E-mail
Written by Andy   
Wednesday, 20 January 2010 08:44

Tanggal : 24 Januari 2010.

Nas : Ulangan 5 : 11 – 15.

KUDUSKAN DAN RAYAKAN SABAT TUHAN

Nas khotbah hari ini adalah bagian dari pidato Musa pada bulan-bulan terakhir hidupnya yang disampaikan di hadapan bangsa Israel sewaktu mereka berkemah di negeri Moab. Tidak lama lagi mereka akan dipimpin oleh pemimpin yang baru dan akan menghadapi tantangan yang baru. Oleh sebab itu sebelum memasuki tanah Kanaan, Musa mengingatkan mereka akan peristiwa-peristiwa besar selama 40 tahun yang terakhir dan supaya mereka selalu mengingat bagaimana Tuhan memimpin mereka melalui padang gurun supaya mereka selalu taat dan setia kepada Allah. Musa mengulangi Sepuluh Perintah Allah atau Dasa Firman, yaitu konteks nas khotbah hari ini agar mereka setia menaatinya. Secara khusus dalam nas khotbah ini mereka diingatkan agar menuruti perintah untuk berhenti dari pekerjaan dan menguduskan dan merayakan hari Sabat.

Dalam nas epistel atau pendahuluan khotbah hari ini telah ditekankan oleh Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan Pencipta hari Sabat: Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (ay.27). Hari Sabat dibuat untuk menyediakan sesuatu yang kita butuhkan, untuk menolong kita. Suatu berkat untuk kita, suatu hari sukacita; bukan untuk membebani kita atau membatasi atau menghalangi kita. Justru dengan Sabat kita semakin dimampukan utuk mengerjakan pekerjaan kita lebih efektif. Sabat diberikan Pencipta sebagai hari perhentian dan penyembahan untuk merayakan perbuatan dan anugerah Allah yang ajaib. Perhentian hari Sabat ini adalah prabayangan datangnya perhentian Sabat yang kekal atau istirahat kekal (Ibr.4:9).


Penjelasan.

1. Kedaulatan Allah atas waktu dan pekerjaan (ay. 13). Sejak awal, pada waktu penciptaan, Sabat ini sudah ada. Saat inipun Tuhan tetap sediakan buat kita, dan sampai akhir zaman. Bahkan sabat sekarang dapat kita katakan merupakan pra-bayangan sabat yang kekal, di mana kita menikmati kebebasan penuh, istirahat sejati dan penyembahan yang sempurna kepada Tuhan. Hukum ke-enam tentang pengudusan dan perayaan Sabat adalah suatu penegasan mengenai kedaulatan Allah atas waktu. Seluruh waktu adalah milik Allah, Dia tidak terikat kepada bumi, bulan atau tahun seperti kita. Karena semua waktu adalah milik Allah, Dia memiliki kekuasaan atas waktu yang kita gunakan. Kita hanya pelayan dan waktu Allah, kita hanya menggunakan waktu Allah. Dia memerintahkan siklus mingguan untuk bekerja dan beristirahat. Karena Allah berdaulat atas waktu, Dia juga berdaulat atas pekerjaan kita: “enam hari lamanya kami bekerja” Kerja adalah amanah Tuhan bagi kita yang diberikan sebelum manusia jatuh dalam dosa (Kej. 1:26-28; 2:15). Manusia diciptakan sebagai mahluk pekerja, homo loborans. Kerja bukanlah akibat kejatuhan manusia dalam dosa, kerja bukan bagian dari kutuk. Kerja adalah sarana untuk memuliakan dan melayani Allah (1 Kor. 10:31) dan pelayanan kepada sesama kita manusia.

2. Kedaulatan Allah atas istirahat (ay.14). Tuhan sudah menetapkan hari Sabat sebagai hari istirahat, bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi untuk semua ciptaan Allah. Dalam ayat 14 dikatakan semua harus istirahat, termasuk anak-anak, ternak, hamba dan orang asing. Bukan berarti Tuhan mau membatasi kegiatan kita sehari-hari, umpamanya kegiatan di kantor, di pasar, di ladang atau bisnis kita. Tetapi jangan kita selalu menganggap bahwa waktu adalah uang. Waktu adalah karunia Tuhan, dapat kita pakai cari uang, tetapi ada waktunya kita khususkan untuk beristirahat, menikmati karunia Tuhan dan-beribadah kepadaNya. Ada orang Kristen yang tidak mau kehilangan kesempatan cari duit hari Minggu yang sebenarnya merupakan Sabat bagi kita. Mereka merasa bahwa menguduskan dan merayakan hari Minggu sebagai Sabat Tuhan merupakan beban, mengekang, membatasi kegiatan kita. Justru melalui istirahat Minggu, di mana kita merayakan hari Tuhan, kita disegarkan secara phisik dan secara rohani, sehingga semakin dimampukan mengerjakan pekerjaan kita pada hari-hari berikutnya. Mari kita beristirahat satu hari dalam satu Minggu, yaitu pada hari Tuhan, sambil beribadah kepadaNya, mengingat dan mensyukuri karyaNya yang besar sebagai Pencipta, Penebus dan Pemelihara hidup kita..

3. Motivasi menguduskan dan merayakan Sabat (ay. 15). Dulu umat Israel budak di Mesir, tetapi oleh kasih dan kuasa Tuhan, mereka dilepaskan. Tujuannya adalah supaya mereka beribadah kepada Tuhan, dan pada hari Sabat itulah mereka merayakan keselamatan atau kebebasan mereka dari perbudakan. Jadi Sabat bukan hanya istirahat atau libur, tetapi adalah hari memuliakan Tuhan. Sabat eksodus ini adalah perayaan yang memberikan sukacita untuk memperingati penciptaan dan pembebasan dari perbudakan di Mesir. Penciptaan dan penebusan, inilah dasar untuk merayakan Sabat. Jadi ada dua yang dirayakan atau diperingati pada hari Sabat, yaitu:

Enam hari Tuhan sebagai Pencipta, telah menjadikan langit, bumi dan segala isinya. Dalam Kel.20:8-1 1 motif dasar perintah Allah untuk memelihara Sabat adalah penciptaan. Dalam ayat 11 dikatakan: Sebab enam hari lamanya Tuhan menciptakan langit dan bumi dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Orang Israel sebagai budak di Mesir telah dilepaskan Tuhan sebagai Penebus dengan kasih dan kuasaNya yang dahsyat. Perayaan Sabat adalah suatu kesaksian bahwa dunia bergantung pada Allah, bukan pada manusia. Keselamatan juga tergantung kepada Allah, bukan atas perbuatan manusia. Tujuan umat Allah merayakan Sabat adalah untuk mengingat kasih dan perbuatan besar dan Allah yang melepaskan mereka dan perbudakan Mesir.. Sabat adalah untuk mensyukuri kebaikan dan kuasa Tuhan membebaskan mereka dan perbudakan Mesir. Dalam ayat 15 dikatakan: Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dan sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tan gan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu, memerintahkanengkau meravakan han Sabat, Tetapi pada masa Yesus, sebagaimana dinyatakan dalam epistel han mi, han Sabat yang penuh sukacita mi telah dicemari, menjadi suatu beban, mungkin karena pengaruh masa pembuangan. Sabat buatan yang membelenggu itulah yang ditentang dengan keras oleh Tuhan Yesus.

Renungan.
Dalam Ibrani 4:9 dikatakan, Jadi masih tersedia suatu han perhentian, han ketujuh, bagi umat Allah. Sabat Kebangkitan atau Sabat Kristen

menyatukan makna Sabat Penciptaan dan Sabat Eksodus. Tiap han Minggu kita rnerayakan han kebangkitan Kristus. Sabat eksodus (keluaran) merupakan perayaan kelepasan dan perbudakan Mesir, sedangkan Sabat Kristen merupakan perayaan kelepasan dan perbudakan dosa, Iblis dan maut melalui kematian dan kebangkitan Kristus. “Anak Manusia adalah juga Tuhan atas han Sabat “. Peristirahatan yang sesungguhnya hanya terdapat dalam Kristus. Tanda sunat dalam PL telah diubah menjadi tanda baptisan dalam PB, Paskah dalam PL diubah menjadi perjamuan kudus dalam PB (Luk.22:7-20; 1 Kor.5 :6-8).

 

Bagaimana cara kita menguduskan dan merayakan Sabat?. Tujuan kita menguduskan dan merayakan Sabat adalah demi kebaikan kita dan kemuliaan bagi Tuhan. Sabat yang kita rayakan, yaitu Sabat Kebangkitan tidak sama lagi dengan Sabat keluaran, karena upacara-upacara dan persembahan-. persembahan kurbannya telah mati bersama Kristus dan bangkit kembali pada han pertama sebagai Han Tuhan sebagaimana dituliskan rasul Paulus ke jemaat Kolose (Kol.2:16-17). Han kudus maksudnya han yang dikhususkan untuk benibadah dan menyembah Tuhan. Untuk menguduskan han Sabat kita wajib berkumpul bersama umat Tuhan pada Han Tuhan untuk benibadah bersama (Ibrani 10:25). Disamping memelihara han Tuhan dengan kudus, kita juga dipanggil untuk merayakan Sabat Tuhan itu dengan penuh sukacita. Disamping ada bagian pengakuan dosa, penyesalan dan memohon anugerãh dalam ibadah Minggu, kita juga harus bersukacita, penuh pujian atas kasih, kuasa dan kemenangan Knistus. Pada han Minggu banyak orang yang sibuk dalam ulaon adat, pergi dan lalap di waning atau lapo tuak, tetapi tidak nindu beribadah di gereja. Ada yang asyik berbelanja berjam-jam, ada yang kecapek-an karena malam Minggu asyik berpesta sampai tengah malam, sehingga malas ke gereja han Minggu pagi. Kita diingatkan agar mengingat anugerah Tuhan dan bersukacita menguduskan dan merayakan han Tuhan, yaitu han kebangkitanNya yang kita rayakan setiap han Minggu. mi adalah pra-bayangan sekali gus persiapan kita untuk memasuki dan merayakan Sabat Eskatologis, yaitu Sabat kekal nanti di sorga.

Pdt.M.Siregar MA

 

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 08:52
 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 4 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID