Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| Minggu IV Pebruari 2010 |
|
|
|
| Written by Andy |
| Tuesday, 26 January 2010 03:33 |
|
Minggu IV Pebruari 2010. Nas: Lukas 7 : 36 – 50.
KESELAMATAN SEBAGAI KARUNIA
Kitab Lukas adalah salah satu kitab dari keempat kitab Injil yang memberitakan kabar baik tentang Yesus yang membawa keselamatan. Namun, dari keempat kitab ini, Injil Lukas lebih menekankan pada pemberitaan Yesus kepada orang-orang miskin, orang yang lemah, orang yang tersingkirkan dan kaum papa. Yesus datang sebagai penyelamat. Karya penyelamatan Yesus tidak terikat oleh hukum dunia tetapi menerobos tradisi Yahudi, yang menganggap hanya merekalah anak Abraham, bangsa pilihan Allah. Bagi Yesus, Yahudi atau Yunani, laki-laki atau perempuan; mereka akan bersama-sama duduk dalam meja perjamuan Allah. Menjamu tamu dengan terhormat dan penuh sukacita adalah budaya orang Yahudi yang sangat kental. Beberapa hal tata krama yang mereka perkenalkan pada saat itu dalam menjamu tamu : ada sukacita yang ditunjukkan oleh tuan rumah dengan mencium tangan tamu, ada kerendahan hati yang ditunjukkan dengan sikap mencuci kaki tamu yang datang sebelum, menunjukkan rasa hormatnya yang ditunjukkan dengan membasahi kepala si tamu dengan minyak wangi.
Penjelasan Nas. Simon adalah seorang Farisi yang mengundang Yesus dalam perjamuan makan. Suatu kebanggaan bagi Simon atas keberhasilannya mengundang ke rumahnya seorang guru terkenal, bahkan nabi. Tiba-tiba saja kebanggaan Simon hampir saja sirna, tatkala seorang wanita datang menghampiri Yesus. Wanita itu membersihkan kaki Yesus dengan air mata, rambut dan wewangian yang dibawanya. Hal yang belum pernah dilakukan murid Yesus sendiri., bahkan tuan rumah yang mengundang Yesus tidak menyediakan air basuhan, seperti lazimnya tradisi menerima tamu. Namun, seorang wanita yang tak punya sedikitpun harga diri, dengan kehadiran Yesus, telah menemukan dirinya sendiri, menemukan pengampunan, penyucian dan diterima sebagai Anak Allah. Dengan penuh penyesalan akan dosanya datang kepada Yesus. Imannya mengalami pertumbuhan setelah mengenal Yesus. Ia percaya bahwa manusia sejati itu bukan hanya suci adanya, tetapi juga mengasihi segala manusia. Latar belakang kehidupan yang penuh dosa tidak akan menghalangi kasih Allah. Yesus tidak menolak perlakuan wanita itu dan membiarkan menumpahkan segala dosanya dan menunjukkan keyakinan imannya. Menurut hukum Yahudi, sentuhan pelacur itu akan menajiskan Yesus. Berbeda dengan hukum dunia, Yesus malah memberikan pengampunan atas dosa yang diperbuat dan keselamatan atas imannya. Sambutan Yesus kepada tamu tak diundang menambah keraguan di hati Simon akan kenabian Yesus. Gejolak hati Simon dijawab Yesus dengan suatu perumpamaan. Yesus mengajar Simon arti perumpamaan itu, bagaimana seharusnya memandang seorang manusia, bahkan seorang berdosa sekalipun. Yesus tidak setuju, bila manusia memandang hina sesamanya dan menghakiminya. Memandang sambil menghakimi akan membutakan manusia pada pekerjaan Allah. Berbeda dengan Simon yang hanya memandang lahiriah manusia, Yesus memandang sampai ke dalam hati manusia. Pada saat seseorang sadar akan kebutuhannya akan kehadiran Yesus, sejak itu pintu keselamatan terbuka untuk mereka. Keselamatan pertama-tamu menyangkut rahmat Tuhan yang merangkul semua manusia, dan keselamatan itu didasarkan atas pembenaran manusia oleh Allah, bukan oleh manusia. Manusia oleh kasih karunia telah dibenarkan karena penebusan dalam Kristus Yesus. “Dosamu telah diampuni”, Yesus bertindak sebagai si pelepas utang, menghapus utang si peminjam secara Cuma-suma.”Imanmu telah menyelamatkan engkau”! Wanita itu mendekati Yesus karena iman, bahwa Yesus dapat menyelamatkannya biarpun ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia hanya tamu memperlakukan Yesus sebagai Juruselamatnya dengan seluruh jiwa raganya..
Renungan. Dalam karya penyelamatannya, Yesus tidak membedakan manusia atas jenis kelamin, status sosial, maupun latar belakang kehidupannya. Bagi Yesus yang terpenting adalah iman. Iman itu akan membuahkan pertobatan yang akan mengubah seluruh kehidupan, dengan meninggalkan kehidupan lama untuk berbalik memasuki kehidupan baru ; mengasihi Allah. Kesediaan Allah menerima manusia kembali, bukan sematamata karena perbuatan manusia, tetapi adalah kasih karunia Allah. AMIN
Bahan Diskusi 1. Bagaimanakah sikap saudara memandang orang yang statusnya lebih rendah dari diri anda? 2. Bagaimana pula sikap saudara memandang orang yang statusnya lebih tinggi dari diri anda? 3. Ceritakanlah suatu pengalaman imanmu berhadapan dengan satu kebiasaan masyarakat umum. Pdt. Hasintongan Gurning, M.Min.
|
| Last Updated on Tuesday, 26 January 2010 04:36 |





