Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Minggu II Maret 2010 PDF Print E-mail
Written by Andy   
Tuesday, 26 January 2010 03:34

Minggu II Maret 2010.

Nas: 2 Korintus 1 : 3 – 7.

JANGAN PERNAH BERHENTI MENGUCAP SYUKUR

Dalam memberi nasehat dan pengajaran bagi warga jemaat Korintus dalam hidupnya sehari­hari, Paulus mengajar melalui pengalaman hidupnya sehari-hari. Jemaaat Kristen di kota Korintus awalnya masih dipengaruhi kebiasaan-kebiasaan (tabiat) lama sebelum mereka menerima Kristus, sesuai fakta sejarah Paulus banyak menghadapi tekanan, beban yang berat di tengah pelayanannya di jemaat Korintus, antara lain: perpecahan, pro-kontra antara pendukung (kelompok), perselisihan dan perdebatan yang menimbulkan pemahaman yang salah mengenai piñata layanan jemaat (bdk. 1 Kor.3:6-7). Di tengah perjumpaan Paulus dengan jemaat, tak jarang Paulus menulis surat-surat penggembalaan (Pastoral) berisikan evaluasi secara menyeluruh, mencermati kehidupan jemaat secara kuantitas maupun kualitas sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Paulus. Dalam suratnya, Paulus menekankan kesatuan jemaat serta memelihara iman mereka sebagai bentuk pengenalan yang utuh tentang iman terhadap Tuhan Yesus. Di sisi lain mengapa Paulus menekankan pentingnya pemahaman dan pengenalan yang utuh tentang iman percaya mereka kepada Allah, sebab hanya Allah sumber penghiburan (Bdk 1 Kor. 1:3-7). Nas di atas dimulai dengan kalimat: “Terpujilah Allah.” (pinuji ma Debata), yang berarti: Pujian itu hanya kepada Allah, pujian kepada Allah harus tampak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun jemaat Korintus harus menderita karena Injil, mereka tidak boleh goyah karena Allah tidak pernah membiarkan kita dicobai dunia.

Penjelasan.

Ayat 3-4: Kalimat: “Terpujilah Allah...” Di sini tampak jelas ada pengakuan pribadi Paulus yang secara gamblang mengakui bahwa hanya Allah yang memampukannya memberitakan kabar baik ke tengah-tengah jemaat. Pengakuan ini sekaligus mengajak jemaat Korintus untuk selalu memuji Allah, dalam gaya hidup mereka sehari-hari, antara lain: menjaga persatuan di tengah jemaat agar tidak terjadi perpecahan, menghindari timbulnya perselisihan agar tidak terjadi pro-kontra. Paulus dalam kedua bagian ini mengakui bahwa hanya Allah semata yang bekerja menguatkan serta menghiburnya serta memampukannnya menata layani jemaat, sehingga dengan demikian Paulus bersama Timotius dan Titus dapat bertahan menggembalakan jemaat menjadi jemaat yang bertumbuh dalam pengenalan yang benar, utuh tentang Allah.

Ayat 5-6: Allah senantiasa menghibur, menguatkan Paulus dalam pelayanannya di tengah berbagai tantangan dan situasi yang berubah-ubah, pesan ini tidak hanya sekedar kata-kata (verbal) tetapi dibuktikan dan nyata dalam gerak hidup jemaat sehari-hari. Dalam ayat 7, kalimat: “Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh....” yang berarti: Nampaknya Paulus dengan tegas menekankan bahwa walaupun dirinya diperhadapkan dengan berbagai penderitaan karena Injil, namun tak sedetikpun hati rohaninya berniat meninggalkan pelayanannya di tengah jemaat, di balik itu ada persoalan serius yaitu: pengharapan Paulus akan jemaat Korintus adalah teguh, tidak bimbang, tidak ragu, tidak goyah, tidak ada kata menyerah, tidak sesuatu hal yang mengerikan, atau menakutkan. Padahal di manapun Paulus menata layani jemaat, dia selalu diperhadapkan dengan berbagai tantangan, bahkan harus menderita di penjara. Tapi, Paulus tidak menggantungkan masa depan pelayanannya kepada “nasib buruk” dan “nasib baik” semata-mata! Bahkan juga tidak cuma menggantungkan diri kepada pertolongan dan solidaritas jemaat Dia tetap memiliki idealisme pemikiran yang tetap teguh, memiliki prinsip hidup yang teguh. Paulus tidak memisahkan dirinya dengan jemaat walau dirinya terancam, menderita dan tertekan. Paulus percaya bahwa: “dalam dunia kamu menderita penganiayaan...” (bdk.Yoh.16:33) kata “kamu” berarti: orang-orang percaya kepada Allah harus siap menderita karena Injil, karena penderitaan itu selalu ada dan hadir di tengah dunia, dalam berbagai bentuk seiring dengan perjalan waktu, tak mungkin penderitaan itu kita basmi, atau kita tiadakan. Namun yang pasti, melalui penderitaan itu kita diuji, kita dituntut untuk tetap bertahan dalam iman, sebab jerih payah kita dalam iman tidak akan sia-sia.

Bahan Diskusi.

1. Sejarah menunjukkan bahwa proses Pekabaran Injil di tengah dunia selalu ditandai dengan tantangan, hambatan dan masa-masa sulit Demikian juga saat ini umat Kristen tidak luput dari berbagai persoalan, hambatan dan tantangan dalam perjumpaannya dengan dunia sekitarnya, antara lain: penutupan dan pembakaran gereja, sulitnya mendirikan serta mengurus ijin pembangunan Rumah Ibadah, munculnya berbagai konflik internal, pro-kontra di tengah jemaat yang menjurus pada perpecahan gereja. Dengan kata lain, persekutuan orang-orang percaya kepada Allah tak pernah luput dari masalah. Jika kita cermati di tengah kehidupan berbangsa yang pluralis ini, ada banyak fenomena sosial, ekonomi dan politik yang dengan sendirinya mempengaruhi pertumbuhan iman dan teologi gereja, bahkan tak mustahil tantangan masa kini dengan issu-issu global membuat pelayanan gereja semakin tertantang di tengah situasi sulit yang semakin berat (bdk. Yohanes 16:33 b). Diskusikanlah dalam kelompok PA di jemaatmu.

2. Belajar lewat pengalaman, pekerjaan (Learn by doing) Paulus melihat bahwa hidup, karya dan teologinya mutlak hanya untuk menata layani jemaat Perselisihan, perpecahan, pro-kontra di tengah jemaaat bukan sesuatu yang harus ditakutkan, melainkan bagi Paulus hal itu harus dicari akar masalahnya dengan cepat, tepat dan transparan agar tidak mengganggu pertumbuhan iman jemaat Paulus memberi petunjuk mengenai bagaimana cara hidup jemaat yang benar sebagai anak-anak Allah, antara lain: hidup saling menguatkan, hidup saling menopang, saling menghibur sesama jemaaat Penghiburan dari Allah menguatkan dan memampukan Paulus untuk tetap bertahan dan kuat, tidak goyah untuk menata layani jemaat, memberitakan Kabar Baik ke seluruh tempat tanpa dibatasi waktu. Dewasa ini marak fenomena manusia membebani sesamanya dengan perkataan yang tak senonoh, perilaku yang menyimpang (mutilasi), maupun memakai teknologi canggih (HP, IT, Internet (Face Book) melukai perasaan sesamanya akhirnya terjadi perselisihan, perpecahan rumah tangga, perpecahan komunitas jemaat. Menurutmu, mengapa hal ini semakin sering terjadi, dan apakah hal ini masih tampak terjadi di tengah komunitas jemaat kita atau di sekeliling kehidupan kita?

Pdt. M. Hutabarat, S.Th.

 

Last Updated on Tuesday, 26 January 2010 04:35
 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 5 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID