Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| Minggu 7 PEBRUARI 2010 |
|
|
|
| Written by Andy |
| Tuesday, 26 January 2010 03:46 |
|
7 PEBRUARI 2010 Nas: Markus 10 : 35 - 45
YANG TERMULIA ADALAH MENJADI PELAYAN BAGI SESAMANYA!
Kekuasaan adalah salah satu yang paling diburu orang di dunia ini. Sebab orang yang memiliki kekuasaan senantiasa diidentikkan dengan kemuliaan, kehormatan, kebebasan untuk melakukan apa saja (kebal hukum) atau mendapatkan apa saja (kesejahteraan). Dengan memiliki kekuasaan mereka mengira diri sebagai yang terbaik, mendapat tempat termulia, dan menjadi yang terkemuka. Banyak orang bersaing, berlombalomba, untuk mendapatkan kekuasaan, bahkan ada yang akhirnya saling menjegal, saling menyikut, atau saling 'memakan' untuk mendapatkan status 'berkuasa'. Pemahaman akan kekuasaan dan proses mendapatkan kekuasaan yang salah itulah yang pada akhirnya sering memunculkan persoalan, ketegangan atau konflik di mana-mana dari dahulu hingga sekarang. Hasrat untuk menjadi sama seperti Allah, hasrat memiliki kemuliaan Allah, Hasrat berkuasa, dalam Alkitab dicatat sebagai akar dari dosa. Demikian seterusnya pada zaman modern ini, perang dan kekerasan yang terjadi di seluruh belahan dunia ini banya yang dipicu oleh konflik kekuasaan. Dalam zaman Yesus pun, gejala tersebut telah nampak. Ide 'siapa yang terutama atau yang terbesar' telah menjadi isu yang menarik di antara sesama murid-murid Yesus. Hasrat berkuasa sama seperti Yesus Kristus, juga untuk mendapat tempat paling mulia dalam Kerajaan Allah, sudah menjadi incaran yang tidak sekadar menjadi wacana tersembunyi, tetapi sudah dengan berani dinyatakan secara terang-terangan oleh Yohanes dan Yakobus. Bagi Yesus ini adalah sebuah peringatan sebagai ancaman 'kesatuan' dan 'kerukunan' para murid, yang segara akan Dia tinggalkan dengan misi besar di dunia ini (Ingat: Doa syafaat Yesus bagi murid-muridnya 'Kiranya mereka menjadi satu'/ ut omnes unum sint). Bagi Yesus hasrat atau ambisi ingin menjadi yang terkemuka, terbesar, termulia tidak relevan dengan misi Kerajaan Allah yang dibangunnya.
Penjelasan. Kemuliaan adalah Otoritas Sang Bapa 'Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebalah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu”, permintaan ini disampaikan oleh Yohanes dan Yakobus yang adalah sepupu Yesus (dan dalam Injil Matius yang menyampaikan permohonan tersebut adalah ibu dari anak-anak zebedeus, saudara perempuan Maria Ibu Yesus, lihat Markus 15:40; Mat.27:56; Yohanes 19:25). Dari sini kita melihat bibit-bibit nepotisme atau persekongkolan untuk berkuasa bersama. Permintaan ini untuk mendapatkan tempat yang sama dengan Yesus bukan untuk keseluruhan dari murid Yesus, tetapi eksklusif untuk dua orang, satu di kanan, satu di kiri. Tentu ini sesuatu yang aneh, pertanyaan yang bisa muncul kemudian adalah di mana posisi murid yang lain jika keduanya sudah sejajar dengan Yesus, atau lebih tajam lagi, siapa yang di kanan dan siapa yang di kiri. Tentu banyak persoalan di sini. Sebab ini posisi ini juga sensitif ketika hasrat untuk berkuasa itu sudah memenuhi pikiran. Inilah yang membuat kesepuluh murid yang lain marah kepada Yakobus dan Yohanes, sebab mereka berdua tentu sekali dianggap egois hanya memikirkan kedudukan sendiri apalagi dengan jawaban yang sangat berani dengan mengatakan dapat 'meminum dari cawan yang harus diminum Yesus dan menerima Baptisan yang Yesus terima'. Untuk itu Yesus menjawab permintaan ini dengan mengatakan bahwa hal duduk di sebelah kanan dan KiriNya itu hanya dapat diberikan oleh Bapa bagi barang siapa yang berhak menerimanya atau bagi barang siapa hal itu telah disediakan (bnd. Matius 20:23). Jawaban ini tentu tidaklah memuaskan keduanya. Dalam hal ini Yesus tidak membuat sebuah pengharapan kosong akan kedudukan, tidak memberikan sebuah iming-iming kedudukan mulia bagi orang tertentu karena kedekatan atau karena hubungan kekeluargaan, tatapi menekankan bahwa semuanya didapatkan melalui kesiapan dan kelayakan untuk mendapatkannya melalui anugerah Allah Bapa dan tentunya atas kinerjanya.
Kekuasaan sebagai Pelayanan Kasih Bagi anak-anak dunia, kekuasaan diidentikkan dengan dapat melakukan apa saja atau mendapatkan apa saja dengan tangan besi, dapat berlaku semenamena, namun bagi Yesus Kristus kekuasaan dipahami sebagai pelayanan, kekuasaan dijalankan dengan kasih. Mereka yang melakukan kasih, melayani sesama, siap menjadi hamba bagi semuanya, itulah sebenarnya yang paling mulia, yang terbesar, yang layak mendapat tempat bersama dengan Yesus, menjadi sesama manusia bagi sesamanya yang lain (homo homoni homo), bukan menjadi serigala bagi sesamanya (homo homoni lupus). Inilah yang perlu juga direnungkan oleh mereka yang berhasrat ingin menjadi terbesar, dan mereka yang sedang berkuasa. Kemuliaan dari mereka yang berkuasa adalah pelayanan, mau melayani rakyatnya, melayani sesamanya, dan melakukannya dengan kasih. Kekuasaan bukan kesempatan untuk semakin membesarkan diri, atau meluaskan kekayaan, tetapi adalah kesempatan untuk berbuat kasih, melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan kebaikan untuk banyak orang. Hal ini tentu sesuai dengan panggilan kita sebagai Pengikut Kristus dan ciri-ciri dari pemerintahan Allah (teokrasi) dalam KerajaanNya. Melayani, bukan untuk dilayani Motto inilah yang menjadi semboyan pengikut Kristus yang sejati. Teladan kita untuk ini adalah Anak Manusia, Yesus Kristus, datang ke dunia ini menjadi sama seperti manusia, mengambil rupa seorang hamba, yang datang untuk melayani manusia, menebus dosa manusia, dan itu nyata dalam pekerjaan Yesus Kristus selama di dunia ini, Yesus berjalan ke sana ke mari untuk melayani manusia, menolong manusia, melakukan kebaikan bagi manuusia. Demikian halnya setiap pengikut Kristus dipanggil dalam pekerjaan pelayanan Kerajaan Allah di dunia ini, menjadi berkat di tengah sesamanya. Dipanggil bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Jika prinsip ini dilaksanakan dengan setia, persekutuan umat Kristen di dunia ini akan menjadi teladan, dan menjadi persekutuan yang berwajah surgawi di dunia ini, dan pastilah ke sana berkat-berkat Tuhan akan diperintahkan. Setiap orang yang melayani sesamanya akan mendapat tempat yang mulia dalam Kerajaan Allah.
Penutup. Melayani lebih sungguh itulah kehendak Allah akan hidup kita di dunia ini. Sebab siapa yang mau menjadi hamba bagi sesamanya dalam kerendahan hati, yang menempatkan dirinya sebagai yang terkecil di tengah persekutuan dengan sesamanya, yang menempatkan sesamanya lebih utama dari dirinya sendiri, yang tidak mencari-cari kedudukan atau kekuasaan, yang tidak melakukan kesemanamenaan, akan ditinggikan kemudian, akan menjadi yang terbesar, dan kemuliaan Allah akan memancar melaluinya.
Pdt.Thomas A. Sitorus, M.Th.
|
| Last Updated on Tuesday, 26 January 2010 03:48 |





