Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Suara GKPI, Medium Informasi Yang "Kesepian" PDF Print E-mail
Written by Andy   
Tuesday, 26 January 2010 06:08

SUARA GKPI, MEDIUM INFORMASI YANG “KESEPIAN”

Oleh: Toga Sidar Samosir*

Kita semua pasti setuju bila sebuah organisasi keagamaan (denominasi gereja), benar-benar mau dan mampu menyampaikan suara kenabian, sebagaimana harusnya tugasnya. Dan penyampaian suara kenabian tersebut dilakukan dengan berbagai cara, khotbah, kunjungan sakit, membantu yang kesusahan, kerjasama membangun gereja, dan lain-lain. Ya, seluruhnya yang ada dalam ranah aktivitas warga harus turut menyuarakannya..

GKPI sebagai salah satu denominasi gereja juga punya tugas yang sama, mulai dari pusat sampai ke jemaat, dari pimpinan pusat sampai warga biasa. Suara kenabian yang dimaksud tentu bukan hanya yang bersifat rohani saja. Bukankah GKPI dan warganya, selain menjadi warga kerajaan Allah, juga menjadi warga dunia yang sarat dengan aktivitas kehidupan ? Dan seluruh aktivitas kehidupan GKPI tentunya perlu dan seharusnya diketahui oleh warga GKPI yang lainnya. Ini menjadi salah satu alasan mengapa medium suara GKPI ada. Sebagai warga GKPI, kita perlu tahu bagaimana perkembangan dan aktivitas sesama warga GKPI dimana saja pun berada, di kota sampai pelosok, pusat sampai daerah, dan ini bisa menjadi umpan balik bagi kita semua untuk kemajuan GKPI kedepan.

Ketika warga GKPI disuatu daerah berduka karena bencana, GKPI perlu menyuarakannya, khususnya kepada warganya sehingga kita boleh saling bergandeng tangan, saling mengulurkan tangan, saling mendoakan, dan lain-lain ; dan demikian juga ketika warga GKPI bersuka cita di suatu tempat, kita ditempat lain juga bisa ikut bersuka cita.

Melihat pentingnya peran suara GKPI sebagai “satu-satunya” media informasi umum (mencakup berbagai hal/bidang liputan, bandingkan dengan Mitra Sepadan untuk seksi perempuan yang hanya berisi bahan PA), maka sudah sepantasnya kita semua ikut memajukan suara GKPI tersebut, baik melalui sumbangan pikiran seperti berita seputar GKPI dari daerah-daerah, artikel, dan lain-lain, dan juga dengan menjadi pelanggan suara GKPI. Bukankah suara GKPI adalah milik kita, warga GKPI ? Jadi kalau bukan kita yang memilikinya (membelinya) siapa lagi ?

Apa Isi Suara GKPI

Ketika saya baru berlangganan suara GKPI puluhan tahun yang lalu, memang harus diakui  bahwa perwajahan dan isinya masih sangat terbatas bahkan kalau bukan mengatakan miskin, karena hanya berisi khotbah untuk setiap kategori dan varia kantor pusat. Dapat dimaklumi kalau hal ini, atau dengan penampilan yang sedemikian, suara GKPI belum begitu menarik bagi sebagian besar warga, bahkan Penatua pun, mungkin juga tidak, terlepas dari berbagai alasan dan kendala.

Namun syukur, bahwa suara GKPI terus berbenah dari tahun ke tahun, baik dari segi layout, pengemasan isi, variasi isi, dan lain-lain, dan ini tentunya semua dilakukan agar medium kita ini bisa tampil lebih menarik dan berbobot agar semakin banyak peminat/pembaca (semakin banyak juga oplah dan uangnya ya), sehingga dengan sendirinya isinya yang berupa liputan aktivitas GKPI dan warga GKPI di seluruh Indonesia semakin menyebar dan diketahui.

Sekarang, tanpa menafikan masih adanya kekurangan, kita patut berbangga dengan tampilan dan isi suara GKPI. Dengan ukuran yang mirip tabloid, suara GKPI telah menawarkan perwajahan yang lebih “keren” dan isi yang lebih berbobot dan variatif. Ada porsi untuk bahan khotbah (sudah diminimalkan), ada artikel opini, reportase, pembukawawasan, ada suara Pengmas tentang hukum, kesehatan, pertanian, koperasi/cu, pendampingan terhadap warga yang dirugikan, suara pembaca dan banyak lagi. Pokoknya, sudah OKE sehingga harusnya tidak akan ada alasan mengatakan isisnya monoton..

Fakta ; Suara GKPI Yang Kesepian

Dibalik pentingnya suara GKPI sebagai medium informasi bagi warga GKPI, ada hal yang sampai sekarang yang masih diprihatinkan. Oplahnya hanya 3200 eksemplar per bulan. Mari kita jujur bertanya jawab. Dengan oplah sedemikian dan harga Rp 10.000,-, dari hitungan ekonomi, mampukah penghasilan tersebut menghidupi seluruh pekerja SGKPI dengan layak ? Dan mungkinkah ada tersisa untuk kepentingan GKPI secara umum ? Konon pula dengan tunggakan yang kadang sampai puluhan juta rupiah. Jangan-jangan untuk biaya penerbitan saja bisa seret.

Menurut almanak 2009, GKPI, Penatua saja ada sekitar 7000 lebih, dan Pendeta sekitar 210 orang, bagaimana pula kalau dihitung dengan KK warga GKPI keseluruhan yang hampir 50.000. Maka pertanyaan sekarang, ada apa dengan warga GKPI khususnya Penatua dan Pendeta. Bagaimana kita mengharapkan SGKPI maju (yang berarti juga kemajuan GKPI, dan bagaimana pula kita mengharapkan warga jemaat membaca SGKPI kalau kita, yang Penatua saja tidak menggunakan/membacanya, dimana kendalanya ?

Kita patut cemburu dan sekaligus belajar banyak dari gereja tetangga kita seperti GBKP. Selain ada medium umum GBKP, setiap kategori punya panduan masing-masing yang benar-benar “bisa jalan/laku”. Contoh kecil, pada pertanyaan sektor.  Dari pengalaman saya mengikuti pertanyaan mereka maka 80% KK yang ikut partangiangan memiliki buku PA, bayangkan kalau mereka ada 40.000 KK saja. Bukankah dari situ saja bisa ada dana ratusan juta rupiah untuk kepentingan umum, dan selain itu warga jemaat pasti semakin aktif di partangiangan dan semakin mendalami isi Alkitab ? Dan lain lagi kelompok kategori yang lain, pria, pemuda, remaja, perempuan. Wah....sungguh membuat kita cemburu.

Beberapa Kemungkinan Kendala

Mengapa SGKPI masih kesepian (sepi pembaca) sehingga dari sekitar 360 jiwa warga GKPI hanya 3200 orang yang memiliki/membacanya per bulan. Jawaban pertama tentu adalah kesadaran dan kemauan membaca warga GKPI yang masih kurang. Namun ada beberapa kemungkinan sebab lain diantaranya :

1. Pengenalan warga jemaat yang masih minim.

Harus kita akui bahwa SGKPI belum begitu meng-GKPI atau belum begitu dikenal luas oleh seluruh lapisan GKPI. Tak kenal maka tak sayang, tak kenal tak dibeli, tak dibaca. Wajar saja. Untuk itu kita seharusnya membantu pekerja SGKPI (yang hanya beberapa orang di pusat) untuk memperkenalkannya kepada seluruh warga GKPI. Terutama tentunya para Pendeta dan Penatua (tapi, jangan-jangan mereka pun belum semua baca). Semakin warga mengenal dan memahami serta merasakan manfaat SGKPI bagi mereka semakin ingin mereka membacanya sehingga pada akhirnya bukan lagi Penatua atau Pendeta atau distributor yang menawarkan pada mereka justru mereka yang mencarinya.

2. Pendistribusian yang kurang cepat

Ini menjadi kendala umum yang biasa dihadapi GKPI dan SG-nya, apalagi kedaerah yang jauh dari pusat. Beberapa tahun lalu saya mengalami hal yang sama. Bahan khotbah sudah lewat dua minggu baru SGKPI tiba di Kabanjahe (termasuk dekat ke pusat). Namun ini bukan tidak bisa diatasi, tergantung kepada kemauan kita bersama. Dengan percepatan pencetakan (yang berarti juga percepatan datangnya bahan), pengiriman dan keaktifan penanggung jawab distribusi di resort atau jemaat. (Untuk merangsang keaktifan distributor tersebut tentunya bisa dengan memberikan potongan khusus).. Penanggung jawab distributor tersebut juga selanjutnya berusaha aktif menawarkan/mempromosikan SGKPI kepada warga terutama yang prospektif membaca, jangan hanya menunggu siapa yang mau.

3. Pembayaran

Ini justru menjadi masalah pengelola SGKPI. Begitu banyaknya uang yang masih tertahan pada penanggung jawab/distributor, di jemaat/resort. Kita dapat melihat di SGKPI sendiri himbauan dari redaksi untuk segera dilunaskannya tunggakan tersebut. Secara hitungan matematika kita melihat jumlah yang “wah” untuk ukuran SGKPI. Kalau tunggakan pembayaran mencapai Rp 70 juta lebih, bukankah ini sudah lebih dari keseluruhan harga SGKPI dua kali penerbitan ? Lalu kita bertanya, darimana SGKPI dapat menghidupi dirinya, darimana pekerja SGKPI mengebulkan dapurnya kalau uangnya tertahan di jemaat/resort. Ini juga sebagai himbauan kepada distributor atau siapa pun yang menanggungjawabi SGKPI.

Penutup

SGKPI adalah milik GKPI, milik kita dan untuk kepentingan kita secara umum sebagai sumber informasi. Jadi adalah tugas kita bersama untuk memajukannya. Untuk bisa memajukannya kita harus mengenalnya, membacanya, dan agar dapat mengenalnya harus ada yang memperkenalkan. Siapakah?? Kita semua. Terutama yang sudah mengenalnya agar memperkenalkan kepada yang belum. Setelah dikenal dibaca, tertarik, jadilah pembaca setia (pembeli juga). Harapan kita, sambil pengelola SGKPI di pusat tetap meningkatkan daya tarik/isi SGKPI sehingga semakin menarik kepada warga GKPI secara umum, pendistribusian pun bisa semakin lancar dan tepat waktu. Dan pada sisi yang lain para pelanggan pun diharapkan dengan setia membayar biaya tunggakan sehingga dapur SGKPI dan pekerja SGKPI pun bisa lancar mengepul. Semoga..

*Urkom SGKPI di Kabanjahe

 

Last Updated on Tuesday, 26 January 2010 06:28
 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 3 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID