Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| ANUGERAH |
|
|
|
| Written by Andy |
| Tuesday, 26 January 2010 06:34 |
|
A N U G E R A H
Kasih karunia dalam bahasa Ibrani adalah khen. Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah Kharis yang artinya perbuatan atasan kepada bawahan padahal bawahan itu sebenarnya tidak layak menerimanya. Allah memilih bapak-bapak leluhur bangsa Israel hanya oleh kasih karunia di hadapan Allah saja. Karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapanKu dan Aku mengenal engkau (Kel. 33:17). Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia (Bil. 6:25). Tidak ada jasa atau kebenaran dalam diri mereka yang dapat dianggap ambing bagi pemilihan itu. “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dan bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu. Bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? Tetapi oleh karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpahnya yang telah diikrarkanNya kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun Raja Mesir” (Ul. 7:7-8). Berdasarkan kasih karunia, Allah membuat perjanjian di Sinai. Nabi-nabi yang menekankan pertobatan, mengakui bahwa hati yang baru harus diperoleh sebagai kasih karunia dari Allah (Yeh. 36:36, Yer. 31:31-34). Kata kerja Kharizesthai (Yunani) dipakai untuk mewujudkan arti pengampunan dari manusia dan juga dari Allah. “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan oleh Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaranmu dengan menghapuskan surat hutang” (Kol. 2:13). Manusia dinyatakan berdosa, tetapi oleh kasih karunia dibenarkan, yaitu Allah dalam kasih karuniaNya memperlakukan Dia walaupun bersalah, seakan-akan manusia tidak pernah berbuat dosa (Rm 3:21-4:25). Setiap langkah dalam proses hidup Kristen tergantung pada KASIH KARUNIA. Dalam Roma 8:28-30, Paulus memandang pekerjaan Allah sejak dari panggilan sampai kepada kemuliaan orang dibenarkanNya sebagai kasih karunia. Roma pasal 6 memakai gambaran baptisan untuk mengajarkan penaklukan dosa oleh kasih karunia (1 Kor. 6:11; 12:13, Ef. 5:26; Kol. 2:12, Tit.3:5). Baptisan anak-anak adalah suatu cara menerima anugerah Allah, karena anak adalah ambing ketidaksanggupan dan ketidak berdayaan manusia. Kasih karunia Allah dinyatakan dalam penderitan Yesus Kristus (bnd. Ibr. 2:9). Kalau orang percaya dapat mengabdi/berbuat hal itu juga adalah karena kasih karunia (bnd. Ibr. 12:14,15). Akhirnya kasih kanunia dihubungkan dan akan berakhir dengan kehidupan yang kekal. Kalau kita teliti beberapa nas alkitab, kasih karunia/anugerah digambarkan dengan berbagai kiasan, antara lain:
Kasih Karunia Sebagai Pagar (Mzr. 6: 13). Pagar adalah sebagai alat penting. Musuh dan pencuri akan terhalang mengambil tanaman dan ternak yang dilindungi dengan pagar. Ternak yang berada di dalam pagar tidak dapat pergi sesuka hatinya, dan kalau ia keluar pagar bahaya sudah menantinya. Akibatnya ia akan tersesat dan diterkam oleh musuh, atau ia akan mudah dicuri oleh pencuri. Orang percaya selalu dipagari, dilindungi oleh kasih karunia Tuhan di dalam darahNya dan kuasa Roh Kudus akan selalu menyertainya setiap hari. Apakah anda merasakan kasih karunia Tuhan yang melindungimu setiap hari? Allah memagari kita dengan kasih karuniaNya oleh sebab itu jangan takut ikutlah Dia dengan setia.
Kasih Karunia Allah adalah Sempurna (Yak. 1:17). Segala pemberian Allah tidak pernah setengah-setengah, selalu sempurna dan bermakna positip bagi setiap orang yang menerimaNya. Teguran atau hukuman Allah sejak Adam berdosa, air bah, menara Babel dan pembuangan bangsa Israel ke Mesir menunjukkan bahwa tindakan Allah selalu jelas dan penuh bahkan dirasakan sempurna pada akhirnya. Kesempurnaan pertolongan Tuhan kepada manusia berdosa sungguh nyata dalam diri PuteraNya yang tunggal penyelamat dunia. Dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, betapa sempurna kasih karunia Tuhan sehingga kita boleh hidup dan berpengharapan bahwa kehidupan kekal akan diberikan kepada setiap orang yang mempercayaiNya dengan setia. Kasih Karunia Allah adalah Penghiburan (2 Tes. 2:16). Orang yang berduka cita butuh penghiburan. Dukacita dan penderitaan manusia adalah upah yang akan diterima, karena upah dosa adalah maut. Namun Allah telah menganugerahkan penghibur sejati dan abadi. Hal itu tidak tergantung kepada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah saja. Penderitaan yang dialami sekarang tidak seberapa dibandingkan hidup yang diberikan kelak itulah penghiburan sejati.
Kasih Karunia adalah Kekuatan (1 Pet. 4:4). Hidup kekristenan kita penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dengan iman, pengharapan dan kasih. Pergi dan berbuah itulah tugas nyata yang telah diberikan Yesus kepada murid-muridNya dan kepada kita saat ini (Yoh. 15:16). Dorongan atau motifasi untuk melakukan semua kehendakNya berasal dari kesadaran kita akan anugerah keselamatan yang telah kita terima. Bersaksi dan berbuat adalah kerinduan setiap orang yang mengakui bahwa Yesus adalah milik yang paling berharga baginya. Tidak pernah lelah dan mengeluh tetapi memiliki kekuatan yang penuh untuk menyebar berkat keselamatan.
Kasih Karunia Memberi Janji. Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak hahis-habis rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu (Rat. 3:22). Pengharapan akan hidup besok hari, minggu, bulan, tahun dan sampai maranatha (kedatangan Yesus kedua kalinya). Itulah janji yang kita terima. Karenanya setiap orang yang percaya dapat berpegang penuh pada firmannya dan dapat tegar di saat penderitaan datang menimpa. Tidak ada janji jika tidak ada kuasa untuk memberikannya. Kalau Allah menjanjikan keselamatan bagi umat manusia, maka ia berkuasa untuk memberikannya.
Kasih Karunia Menghasilkan Pembenaran (Rm. 5:16). Kristus telah mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Kita dibenarkan bukan karena usaha dan perbuatan baik, tetapi dianugerahkan Allah Bapa di dalam Yesus Kristus. Sebagai ganti manusia untuk dihukum atau menjadi korban yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya Dialah Anak domba yang menyerahkan nyawaNya sendiri. Dengan demikian hidup manusia hanya tergantung kepada kasih karunia saja. Manusia tidak dapat berbuat dari dirinya sendiri dan upahnya hanya maut. Akan tetapi di dalam Yesus upah yang menanti adalah hidup abadi. Saudara-saudara yang kekasih, dan penjelasan di atas sudah dapat kita pahami tentang anugerah atau kasih karunia yang diterima umat manusia dan Allah secara Cuma-cuma yang sebenarnya tidak layak menerimanya.
Pdt. O. Pasaribu, M.Th
|
| Last Updated on Tuesday, 26 January 2010 06:36 |





