Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| Minggu III Juni 2010 |
|
|
|
| Written by Andy |
| Wednesday, 09 June 2010 05:30 |
|
Minggu III Juni 2010. Nas: Ulangan 11 : 13 – 21.
BERKAT TUHAN TERCURAH BAGI YANG MEMELIHARA FIRMANNYA
1. Setelah Sepuluh Titah diterima Musa di Gunung Sinai, maka Tuhan juga semakin menegaskan supaya FirmanNya itu terpelihara. Dalam nas ini secara jelas dinyatakan akan adanya dua resiko; kutuk atau berkat. Semuanya berhubungan dengan Firman Tuhan, jika Firman itu dipelihara maka aka nada pencurahan berkat, jika berbalik kepada Allah lain maka aka nada kutuk. Dalam tradisi Perjanjian Lama, selalu ditegaskan bahwa bukti dari kesungguhan adalah terletak pada hati dan jiwa, bukan berpedoman pada perkataan belaka (ayat 13: “jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang Kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi Tuhan, Allahmu dan beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu). Kita juga diperhadapkan pada suatu deskripsi berkat di sini yakni kemakmuran (ayat 14-15). Kesalahan atau dosa klasik dari umat Israel adalah penyembahan berhala. Berhala ada di sekitar suku-suku yang berdekatan dengan Israel, itu sebabnya umat Israel dilarang kawin antar suku guna menghindarkan kemungkinan akan terkontaminasi dengan agama suku (ayat 16: “hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada Allah lain dan sujud menyembah kepadaNya). Khusus tentang dosa ini, Alah tidak mempunyai toleransi, karena Allah pencemburu dan memberi kutuk dalam hal ini pemusnahan (ayat 17: “lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan Tuhan kepadamu). 2. Tradisi orang Israel biasanya dipenuhi oleh tanda di tangan dan di dahi. Hal ini bias juga kita perbandingkan dengan tradisi orang India. Ada semacam gelang yang diikat ditangannya untuk membuktikan bahwa dia tidak ingkar dalam persahabatan, dan di dahi bias diketahui tanda apakah seseorang itu telah menikah. Dalam ayat 18 hal itu dipesankan: mengikatkannya sebagai tnada pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambing di dahimu. Sampai pada masa Yesus juga hal itu berlaku, menuntut suatu tanda (Matius 12:38: pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu”. Dan pada ayat 39: tetapi jawabNya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntu suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. 3. Kita perlu meniru tentang kesungguhan orang Israel dalam memelihara Firman Tuhan secara maksimal untuk mendidik anak-anak tentang Firman Tuhan. Dalam II Timotius 4:2 juga dikatakan: beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Maka kalau kita perhatikan, kesungguhan untuk memelihara Firman Tuhan dalam keluarga adalah sedemikan pentingnya (ayat 19: “kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun) tentunya hal ini terjadi jika orang tua memiliki kedekatan tersendiri kepada anak-anaknya. Semua itu mengandung suatu upah yang telah dijanjikan yakni (ayat 21); supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka , selama ada langit di atas bumi. 4. Tentunya sudah waktunya GKPI memiliki paa pelayan dan warga jemaat yang mempunyai kesungguhan hati dan jiwa dalam mengasihi Tuhan dengan memelihara FirmanNya pada keluarganya. Ingatlah Firman Tuhan ini dalam 2 Tawarikh 16:19a: “karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.
Pdt. Lofty L. Sihotang, S.Th.
|
| Last Updated on Wednesday, 09 June 2010 06:00 |





