Bahan PA Ibadah Keluarga
Koor Tahun Pria GKPI 2010
Download File
Berita Pelayanan
Khotbah
Opini GKPI
Wacana GKPI
Wawasan GKPI
Renungan GKPI
Artikel
Arsip Dokumen Web GKPI
| Minggu IV Juni 2010 |
|
|
|
| Written by Andy |
| Wednesday, 09 June 2010 05:31 |
|
Minggu IV Juni 2010. Nas: Pengkhotbah 3 : 16 – 22.
Pengkhotbah sarat dengan pengamatan sosial. Ia mengangkat, menganalisa dan merefleksikan kehidupan masyarakat. Peristiwa yang terlihat, terdengar, dan dialami manusia merupakan pengulangan saja. Semuanya sudah pernah terjadi. Walau bukan yang pertama dan bukan yang terakhir, namun manusia perlu menemukan makna dari setiap peristiwa. Bagi Pengkhotbah, makna dari seluruh peristiwa kehidupan yang pernah terjadi adalah supaya manusia takut akan Tuhan! Satu kehidupan manusia yang disorot Perngkhotbah dalam nas ini adalah terjadinya konflik. Konflik yang tidak dapat dikelola di dalam hidup masyarakaat, maka diupayakan penyelesaiannya pada lembaga Negara, yaitu pengadilan. Diharapkan, lewat lembaga itu masyarakat mendapatkan keadilan. Namun, disitupun orang-orang tidak menemukan keadilan. Pengkhotbah melihat segala sesuatunya siasia.
Pengadilan adalah sebuah tempat untuk mencari keadilan. Di situ terdapat dewan hakim yang menimbang sebuah perkara (konflik) untuk mencari kebenaran/keadilan. Pertimbangan yang benar akan menghasilkan keadilan. Pertimbangan dilakukan bukan saja berdasarkan kesaksian dan bukti belaka, tetapi juga harus dipenuhi dengan Roh Tuhan, yaitu hati nurani. Dengan pertimbangan yang demikian rasa keadilan masyarakat dapat tercapai. Namun, kenyataan yang terjadi, pengadilan tidak mampu memberi rasa keadilan. Pengadilan sebagai tempat mencari keadilan hanyalah rekayasa. Masing-masing penggugat dan tergugat hanya memberi kesaksian demi kepentingannya. Pengacara mempertontonkan kemahirannya mengotak-atik hukum untuk keinginan kliennya. Dewan hakim memenangkan orang yang dapat menyenangkannya. Mereka semua mengabaikan Hukum sehingga tertutup pintu keadilan. Sifat, prilaku, tindakan orang-orang yang demikian hanya mengaburkan kebenaran. Di dalamnya penuh dengan suap, keadilan diperjualbelikan. Inilah kehidupan yang disaksikan oleh Pengkhotbah. Tidak ada kejelasan, siapa yang benar dan siapa yang tidak adil. Rasa keadilan seringkali terusik. Tidak ada keadilan di atas bumi ! Kirakira demikian pengamatan Pengkhotbah. Oleh sebab itu, manusia akan diadili oleh Allah. Allah membiarkan manusia melakukan pekerjaan sekehendak hatinya dan menggunakan waktu sesuka hatinya. Tetapi semua itu akan berakhir. Akan tiba waktunya Allah meminta pertanggungan jawab atas pekerjaan dan waktu yang dimiliki oleh manusia. Saat itulah terjadi pengadilan Allah. Allah yang memberikan vonis atas perbuatan manusia itu. Manusia yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya akan diberikan kebahagiaan. Sedangkan yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya akan menerima sanksi. Disitulah terjadi keadilan mutlak. Manusia itu sendiri akan merasakan bahwa praktek yang mereka lakukan itu hanya untuk mencari kemenangan. Oleh sebab itu, siapa yang kuat itulah yang menang. Praktek peradilan yang demikian sama saja dengan ‘persidangan’ binatang : “Yang kuat yang mendapatkan.” Itulah kata-kata yang tepat untuk kehidupan binatang. Sikap manusia yang penuh dengan ketidakadilan itu mencerminkan cara hidup binatang. Binatang (anjing) tidak pernah memikirkan keperluan sesamanya. Ia hanya mementingkan kepentingannya. Ia akan memakan semua makanan yang ada dihadapannya. Di situ tidak ada keadilan. Tidak ada binatang yang menyodorkan makanan kepada sesamanya binatang, bahkan sisa makanannya pun jika diambil sesamanya akan dilawan. Itulah binatang. Dan manusia itu sendiri yang akan menyadari bahwa tindakan seperti itu tak ubahnya bagaikan binatang. Manusia telah mempertontonkan tindak tanduknya sendiri seperti binatang, maka nasib manusia itupun sama dengan binatang, menuju satu tempat, yaitu kematian. Allah yang telah membedakan manusia itu dari binatang ternyata tidak mampu memanfaatkan kelebihannya. Manusia tidak memiliki kelebihan atas binatang. Manusia hanya akan menjadi manusia apabila manusia itu memiliki kelebihan. Manusia memiliki Roh. Itulah yang menjadi kelebihan bagi manusia. Melalui Roh itu, manusia dapat berkomunikasi dengan Allah, sehingga manusia itu tahu kehendak Allah. Manusia sebagai makhluk yang mengetahui kehendak Allah mestinya melakukan kehendak Allah itu di dalam hidupnya. Tetapi prilaku manusia itu telah membuat jalannya sendiri sama dengan binatang. Semua menjadi debu. Manusia yang memiliki Roh, maka semestinya nafasnya kembali ke atas. Tetapi karena perbuatan mereka yang tidak menggunakan Roh yang dimiliki, maka sama saja mereka tidak memiliki Roh. Maka nafas manusia itu sama dengan binatang , sama-sama turun ke bawah. Satu hal lagi yang mungkin dilakukan manusia adalah bergembira dalam melakukan pekerjaannya. Bekerja sudah menjadi bahagian hidup manusia. Manusia harus bekerja untuk memperebutkan dunia ini seperti binatang. Manusia tidak perlu menyombongkan, membanggakan, dan sedih dengan jabatan dan pekerjaannya ; sebab semuanya hanyalah perebutan-perebutan belaka. Semua akan berakhir. Manusia tidak menjadi berkat bagi orang lain. Oleh sebab itu, pengkhotbah menekankan, biarlah manusia itu bergembira dengan tugas dan jabatan yang dimiliki, sambil menunggu nasibnya yang sama dengan binatang.
Pdt. Hasintongan Gurning, M.Min.
|
| Last Updated on Wednesday, 09 June 2010 05:59 |





