|
Ada pendapat orang pintar mengatakan bahwa "lupa akan sejarah akan membuat seseorang secara mudah kehilangan jati diri atau identitas" sebab sejarah adalah proses perjalanan hidup dimasa lalu (hitam-putih, pahit-manis, kaya-miskin, muda-tua, dll) yang akan memberkan inspirasi kepada seseorang pada jamannya, dan memampukannya untuk memformulasi methode dan strategy baru tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak lama. Dalam kaitan ini, sejarah pengembangan masyarakat (Pengmas) khususnya pada organisasi lembaga kerohanian seperti Gereja pun perlu diingat kembali, sehingga kita bisa memformulasi methode dan strategy yang lebih sesuai pada jamannya.
Bagi gereja-gereja yang tergabung dalam wadah Persekutuan Gereja-gereja (PGI) khususnya di wilayah Sumatra Utara, Pengembangan Masyarakat (selanjutnya disingkat dengan Pengmas) muncul pada Sidang Raya ke-VII PGI pada tahun 1971 yang dilaksanakan di Pematangsiantar, dimana salah satu rangkuman kesepakatan pada saat itu adalah "Gereja sudah saatnya melakukan penginjilan melalui pendampingan terhadap sektor-sektor pekerjaan warga jemaat", sehingga pelayanan terpadu (holistic) antara Iman dan Perekonomian warga jemaat dapat terlaksana secara selaras. Secara awam saya menafsirkan bahwa hal ini tercetus barangkali saja merupakan hasil evaluasi para rohaniawan gereja terhadap pelayanan pasca berdirinya gereja-gereja, dan pesatnya pertumbuhan Iman para warganya, sementara pertumbuhan ekonomi menjadi kurang tersentuh. Dan kemiskinan pada sektor ekonomi akan mudah mempengaruhi terhadap keteguhan seorang awam dalam mempertahankan iman kepercayaannya sebagai satu-satunya "Pelita" dalam kehidupannya. Ini bisa dilihat secara visual misalnya, maraknya pertentangan politik untuk merebut jabatan yang sudah pasti kalau menjabat akan lebih banyak merengguta harta duniawi, korupsi sistemic dari segmen paling tinggi sampai segmen paling rendah, persekongkolan-persekongkolan untuk melakukan manuver ekonomi bertajuk korupsi - perambahan hutan - penggelapan asset - penindasan - ketidak adilan - ketidak amanan - dll. Kerawanan seperti ini adalah bias akibat ketidak mampuan seseorang untuk mempertahankan Iman sebagai satu-satunya "Pelita" dalam kehidupannya (biar miskin secara ekonomi asal ber-Iman menjadi sebuah personifikasi bahasa semata). Dan PGI melalui persidangan-persidangannya, setelah menampung segala masukan dari gereja-gereja anggota, melakukan kajian konstruktif tentang itu, dan keluarlah seruan untuk melakukan Pengmas.
Beberapa gereja anggota PGI-WSU melakukan reaksi cepat dalam kaitan ini, antara lain dengan lahirnya : Parpem GBKP, Pelpem GKPS, Pengmas HKBP, Pengmas GMI, dll. Walaupun terlambat tetapi lebih baik daripada tidak berbuat sama-sekali, sehingga GKPI mmbentuk Pengmas pada tahun 1989. saya ingta persis, pada waktu itu bapak Pdt. MSE. Simorangkir (Bishop GKPI sekarang) pada saat itu menjabat sebagai Ketua Urusan Diakoni sekaligus menjadi Direktur Pengmas saat itu. Saya baru saja tamat dari IKIP Negri Medan (tahun 1988), dan menjadi orang pertama yang masuk menjadi staff (walaupun waktu itu belum ada apa-apa, dan satu tahun saya bekerja tanpa gaji). Pekerjaan Pengmas diawali dengan penyamaan persepsi tentang Pengmas melalui diskusi-diskusi dengan Pendeta dan Pelayan GKPI. Dan pada tahun 1990, satu lembaga donor Jerman bernama BFDW mendukung program Pengmas dan berlangsung sampai tahun 1996. banyak pekerjaan di rakyat dapat terlaksana, dan sangat menolong pada saat itu, antara lain : Pengadaan Listrik desa di dusun Bulupayung - Garoga, pengadaan air minum di Kabanjulu - Dairi, pengadaan air minum di Tanjung Leidong, pembukaan jalan Menuju Siattar Naipospos di Tarutung, pompanisasi untuk irigasi di Sei Rampah, pelatihan skill pemuda GKPI untuk bahasa Inggris dan muntir, pendirian 37 unit CU jemaat, direct marketing produk petani melalui kios di Pasar HORAS Pematangsiantar dengan warga jemaat yang ada di Pematangsiantar, dll. Dibalik prestasi ini, sudah barang tentu banyak pula kelemahan, antara lain : adanya anggapan bahwa Pengmas adalah 'gudang uang', tingkah laku para staff yang kurang pas menurut kehendak jemaat dan pelayannya, adanya perasaan pengkotak-kotakan dalam penentuan target group (ai angka dongan-dongan ni Direktur ido dilehon program), dll. Terlepas dari semua prestasi dan prestise, saya berasumsi bahwa "setidaknya GKPI sudah berbuat sesuatu untuk memikirkan warga jemaat dalam pengembangan sosial ekonominya melalui Pengmas" pada saat itu. Dan response warga jemaat sangat positif, bahkan menurut pengalaman saya, dengan bergandengan tangan bersama Pendeta ketika mengunjungi satu jemaat, kemudian diawali dengan pelayanan rohani dari Pendeta, dan sesudah kebaktian dilanjutkan dengan diskusi program bersama Pengmas, membuat pelayanan semakin 'BERSINAR'.
Inilah SEJARAH Pengmas.Pelayanan Pengmas dapat dibagi dalam tiga jenjang, dan masing-masing jenjang (kategori) memiliki kekhususannya, Antara lain:
1. Pengmas dalam bentuk Karitatif (Charity). Ini merupakan tahapan awal, dan sangat berguna khususnya untuk kegiatan darurat. Misalnya, bantuan pangan dan obat-obatan bagi korban bencana alam atau kebakaran, roti untuk kaum lapar, ikan untuk kaum miskin, dll. 2. Pengmas dalam bentuk Community Development (CD). Ini sedikit lebih maju dari charity, atau bias menjadi follow-up dari charity. Setelah korban bencana alam diberi makan, lalu perlulah pembangunan sarana dan prasarana. Kemudian perlu pendidikan pertanian, perlu air minum, dll, yang pekerjaannya melibatkan swadaya masyarakat (semisal tenaga, bahan-bahan, dll.) 3. Pengmas dalam bentuk Transformatif. Ini dapat terwujud dalam bentuk pelayanan JPIC (Keadilan - perdamaian - dan keutuhan ciptaan), pendampingan hokum, mempengaruhi politik Negara, melakukan penplakan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, atau menolak indistri yang merusak tatanan hidup masyarakat sekitarnya.
Pengmas gereja-gereja lebih banyak berkonsentrasi dalam point 1 & 2, dan LSM-LSM independent seperti KSPPM, Walhi, LBH, dll. Berkonsentrasi pada point 3, walaupun gereja juga kadang-kadang harus mendukung gerakan point 3, misalnya : ketika tanah rakyat (warga) dirampok pengusaha, atau ada gereja yang digugat, keputusan 2 menteri tentang pengaturan lembaga keagamaan, atau hal-hal lainnya yang sifatnya transformative. Apa refleksi GKPI terhadap Pengmas Babak I (1989 - 1996)?
Pertayaan ini barangkali melahirkan jawaban yang sangat bervariasi, dan di-ilhami oleh persepsi individu. Secara rasional saya melihat dua sisi penting.
Pertama, bahwa ternyata tidak seluruhnya pelayan GKPI mendukung Pengmas ditingkat jemaat. Ini terbukti karena pada tahun 1997 (pada saat GKPI dalam situasi dan kondisi tertentu) hampir semua elemen pekerjaan Pengmas 'hancur', karena staff tidak lagi mendampingi. Dan ini sebenarnya tidak perlu terjadi, sebab CU, air minum, jalan, listrik, itu semuanya kan untuk kesejahteraan warga jemaar, dan mengapa itu menjadi 'hancur' karena staff Pengmas tidak ada? Dan kalau warga jemaat sejahtera, pasti mereka akan lebih konsentrasi dalam kegiatan gereja, dan lebih response terhadap kebutuhan pelayanan, bahkan semakin respect terhadap para pelayannya. Ataukah kebalikannya?
Kedua, bahwa ternyata kegiatan Pengmas tidak mengakar dimasyarakat, karena keberlanjutan program terhenti setelah Pengmas terhenti, idelanya walaupun Pengmas menghilang namun CU - Listrik - Air minum - akan tetap berlanjut.
Ketiga, kepercayaan warga GKPI terhadap pekerjaan GKPI sangat rendah, karena banyak warga lebih memilih CU Katholik misalnya ketimbang masuk menjadi anggota CU GKPI. Dan untuk ini, kita semua perlu melakukan refleksi ulang, dan melakukan kajian rasional - konstruktif, untuk mencari akar permasalahannya, dan menemukan jalan keluar secara bersama-sama.
Apa harapan terhadap Pengmas Babak Baru (Paradigma Baru)? Bagi saya, ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) GKPI secara keseluruhan, tanpa membedakan pelayan atau warga. Persoalan terkini menjadi lebih kompleks dibanding dengan persoalan pada Pengmas Babak I. Kemutahiran teknologi dan kecanggihan jaman ternyata melahirkan kemutahiran dan kecanggihan kasus pula. Tingkat kriminalitas semakin meninggi, kehidupan orang miskin semakin parah, perpolitikan nasional semakin tidak karu-karuan, penyakit HIV/AIDS ada dimana-mana, industri semakin menguasai elemen-elemen perekonomian nasional, dll. Bagi saya, itu artinya bahwa Pengmas dan pelayanan GKPI juga harus semakin mutakhir. Dan seperti apakah itu?
Dari sini saya menyimpulkan bahwa Pengmas masih diperlukan dalam melengkapi pelayanan gereja khususnya GKPI. Sehingga dalam stewardship (penata-layanan) gereja, Pengmas perlu diikut-sertakan didalamnya. Dengan me-refleksikan Pengmas masa lalu, secara bersama-sama kita formulasikan pelayanan Pengmas masa kini, melalui skala-skala prioritas program pemberdayaan warga jemaat atau penguatan sosial ekonomi. Membangkitkan kembali sisi Penginjilan GKPI pada sektor sosial ekonomi warga jemaat, sebagai upaya untuk mempertahankan existensi pelayanan gereja terhadap masyarakat pada segala abad. Melalui dukungan program dari jemaat BONN BEUEL yang sudah berjalan sejak 2006, dan dukungan EED Jerman yang sudah 'lampu hijau', maka Pengmas siap melakukan kegiatannya.
Saya sangat kental dengan ayat Alkitab yang mengatakan "Pergilah kesegala penjuru dunia, beritakanlah Injil keselamatan bagi semua umat". Injil keselamatan bagi saya adalah, penyelamatan terhadap orang-orang yang terbeban akibat ketidak berdayaan, apakah ketidak berdayaan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, tekanan politik, supremasi hukum, dll. Untuk itu semua lah kita disuruh 'PERGI' menyebarkan Injil Keselamatan. Pada realita saat ini, saya menkhawatirkan jangan sampai "LSM Independen" menjadi lebih "MENGINJILI" daripada Gereja. Dan kalau ini terjadi, lalu gereja akan "PERGI" ke-mana?
|