Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

HIV / AIDS Sudah Ada Di Antara Kita Bagian 3 PDF Print

 

Bagaimana Menyikapi AIDS

Upaya pencegahan melalui komunikasi, informasi dan edukasi yang benar mengenai HIV/AIDS merupakan faktor penting, senyampang belum ada obat dan vaksin pencegahan HIV/AIDS. Setiap orang yang memahami HIV/AIDS bertanggung jawab memberikan informasi dan pendidikan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Pendidikan dan informasi bagi generasi muda sangat penting dalam upaya pencegahan, terutama sebelum mereka menjadi seksual aktif, karena akan sangat terlambat bila mereka mengetahuinya justru setelah terinfeksi. Sangat diyakini bahwa generasi muda dapat menjadi jembatan informasi bagi teman sebayanya secara efektif, asalkan mereka memperoleh informasi yang benar dari sumber yang kompeten dan bertanggung jawab. Persoalannya adalah banyak orangtua, guru dan tokoh masyarakat serta tokoh agama belum siap dengan informasi mengenai HIV/AIDS, apalagi untuk memberikan pendidikan seks.

Mudah untuk menjelaskan resiko tertular HIV melalui darah (parenteral) dan melalui kehamilan (perinatal), dibanding menerangkan penularan melalui hubungan seks karena membicarakan seks masih tabu bagi sebagian besar masyarakat kita. Bagaimanapun juga membicarakan HIV/AIDS tidak bisa tidak harus pula membicarakan masalah seks, sebab penularan terpenting dan terbanyak adalah hubungan seks.

Cara paling mudah menghindari HN/AIDS adalah dengan metode LARANGAN : "jangan tergoda, jauhi pencobaan". Tetapi patut diigat bahwa pengajaran dengan pola "jangan ; tidak boleh .... Berdosa ... !" atau menakut-nakuti, bukanlah cara efektif untuk melakukan perubahan perilaku. Mengajak dan mengajar kamu muda untuk merubah perilaku dan melawan godaan adalah cara DIALOG : memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi,dan membahas kesulitan yang mereka hadapi dengan bijaksana. Cara ini membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Kebanyakan orang memerlukan saran-saran praktis bagaimana menghadapi godaan dan kita merubah perilaku mereka, termasuk bagaimana strategi untuk hidup dilingkungan yang memang benar-benar 'menggoda'. Penggunaan media KIE (Komunikasi, Informasi & Edukasi) seperti poster, brosur, drama, role, play, puisi dan alat peraga lain akan memudahkan proses pembelajaran, karena kebanyakan orang malu untuk mengemukakan perasaan atau perilakunya mengenai seks.

Menghadapi ODHA

ODHA (Orang yang Hidup Dengan HIV/AIDS), juga keluarga dan rekan-rekan dekatnya membutuhkan uluran tangan, perhatian dan pertolongan bagaimana menerima kenyataan yang ada dan bagaimana meneruskan hidup mereka dalam situasi seperti itu. Ketakutan, kemarahan, dan malu merupakan hal-hal yang umumnya dirasakan oleh mereka, dan menjadikan mereka menjadi terasing, tersingkir, dari pergaulan, mengisolasi diri, atau bahkan dikucilkan dan didiskriminasi oleh masyarakat sekitar. Mereka membutuhkan orang yang dapat menerima mereka. Mereka membutuhkan seseorang untuk bicara dan mendengar keluhan mereka. Mereka butuh seseorang yang benar-benar mereka percaya dan memberikan harapan. Mereka butuh sahabat yang dapat menggenggam tangan mereka. Mereka butuh orang-orang seperti guru, Mama, pendeta, petugas kesehatan, pekerja sosial, pendamping, atau siapa saja yang peduli sesamanya. Mereka membutuhkan konseling dan pendampingan.

Reaksi Psikologi ODHA

ODHA adalah manusia biasa yang tidak luput dari reaksi psikologi baik pada saat pertama kali dia mengetahui status HIV/AIDSnya, maupun dalam fase-fase selanjutnya. Umumnya tekanan psikologis yang dialami mereka dari hari ke hari berada antara ketidakpastian-ketidakpercayaan dan penyesuaian-penerimaan. Keadaan-keadaan ini membutuhkan perhatian,sikap dan penanganan yang berbeda pula. Beberapa bentuk reaksi psikologis yang dialami ODHA, yaitu :

Kekuatiran

Hampir semua ODHA kuatir mengenai sisa hidupnya, menghadapi kematian, kesakitan, ketidakberdayaan, kehilangan teman-teman, kesendirian, tidak tahu harus bagaimana menangani permasalahannya. Mereka memerlukan teman yang dapat "berbagi" (sharring) dan dapat mencurahkan keluh-kesahnya.

Kehilangan

Umumnya mereka merasa kehilangan segala-galanya: hidupnya, harapan, kekuatan fisik, potensi, relasi, status dalam masyarakat, keuangan dan kemandiriannya. Mereka membutuhkan pegangan, kasih dan perhatian.

Dukacita

Rasa duka yang dalam muncul dan dirasakan karena seolah-olah seluruh pengalaman hidup hilang dalam sekejap, termasuk sanak famili, teman-teman dan kerabat dan juga orang yang mereka cintai. Juga akan muncul kedukaan mendalam selama masa penantian akan munculnya gejala - gejala klinis yang mungkin terjadi pada dirinya. Mereka membutuhkan penghiburan.

Rasa Bersalah

Mengidap HIV dirasakan sebagai suatu hukuman dari dosa yang tak tertanggungkan. Mereka membutuhkan pendamping.

Depresi

Merasa adanya tekanan berat sehingga tidak mampu berbuat apa - apa lagi. Tidak adanya harapan akan pengobatan, tidak punya kekuatan fisik lagi, kehilangan kepercayaan diri. Mereka butuh kekuatan dari orang lain.

Penolakan/Penyangkalan

Terkadang ada juga ODHA yang menolak /menyangkal bahwa dirinya terinfeksi. Ada juga yang melakukan "penolakan"/penyangkalan sebagai upaya untuk mengurangi adanya shock dalam menerima kenyataan. Namun hal ini kadang juga berakhir dengan sendirinya karena menghadapi kenyataan bahwa ada tanggung jawab sosial yang lebih besar yang harus dihadapi.

Kecemasan

Perasaan campur - aduk antara ketidakpastian dan kenyataan terinfeksi memperhadapkan seseorang pada kecemasan akan berbagai hal, misalnya : Prognosa penyakitnya, resiko terinfeksi penyakit lain, kekuatiran dapat menularkan pada orang lain, cemas dengan kesakitan yang akan dialami, adanya diskriminasi, ketidakberdayaan, dll. Mereka butuh sahabat yang mau mendengar.

Kemarahan

Bisa juga timbul kemarahan karena merasa sebagai orang yang paling bernasib malang. Mengapa hal ini justru terjadi pada dirinya dan bukan orang lain. Marah dan menyalahkan diri sendiri sampai - sampai berpikir untuk bunuh diri, sebagai upaya menghindari penderitaan, rasa, dan duka yang dalam.

Kehilangan harga diri

Hampir semua ODHA, merasa bahwa mereka tidak punya harga diri lagi. Hal ini terutama bila ditolak teman-teman atau lingkungannya. Apalagi bila gejala AIDS sudah muncul dan badan makin kurus.

Merasa tak berarti

Sebagai akibat dari gejala-gejala psikologis diatas, ODHA merasa putus asa, tidak berarti, tanpa harapan dan hanya kematian yang akan mengakhiri penderitaannya. Mereka butuh pegangan dan sandaran hidup.

Perhatian Pada Masalah Keagamaan

Kebanyakan dari para ODHA kemudian akan mengalihkan perhatiannya Pada masalah agama. Hal ini merupakan sesuatu yang positif karna, dapat diarahkan kepada pengharapan dan pertobatan, masih menghargai sisa hidup yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, dan dari sini akan muncul kegairahan kembali bahwa hidupnya masih punya arti.

Penutup

Sebagai orang beriman, kita perlu menyikapi masalah HIV/AIDS dan menghadapi ODHA secara bijaksana. Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sangat berkait erat dengan sejauh mana informasi yang benar dapat diberikan dan diterima, bagaimana seseorang berprilaku untuk menghindari resiko tertular HIV/AIDS, serta bagaimana sikap seseorang menghadapi permasalahan HIV/AIDS dan memberikan perhatian terhadap mereka yang menjadi korban HIV/AIDS. Malu, merasa bersalah dan rasa berdosa sudah merupakan beban sangat berat untuk ditanggung ODHA sendirian. Menyediakan diri untuk berbicara dengan mereka, meluangkan waktu berbagi dengan mereka, tidak mendukakan orang lain dengan hinaan dan sikap menghakimi merupakan hal positif yang patut ditunjukkan terhadap ODHA sebagai sesama manusia, juga terhadap mereka yang telah melangkah dijalan yang salah. Karna tak seorang manusiapun yang tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah melangkah salah baik dalam sikap, perbuatan, perkataan, dan bahkan pikirannya, maka dalam semangat agung kekristenan, kita ditantang untuk belajar dan mengalami bahwa "tak ada dosa yang begitu besar untuk tidak diampuni dan tak seorangpun yang begitu hina untuk tidak dicintai':

*Ketua Pokja HIV/AIDS GKPI.

 

 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 6 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID