Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Kenapa Memilih Yesus Sebagai Jalan? PDF Print

 

Pdt. Revelindo Panggabean


Pendahuluan.

Sebagai seorang yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga Kristen secara otomatis penulis menjadi Kristen pula. Bukan karena pilihan oleh pemahaman. Kehidupan keagamaan penulis “mengalir seperti air”, mengikuti pula yang sudah ada. Tindakan keagamaan tak lebih dari sekedar simbol-simbol yang direfleksikan dalam ceremonial ritus religiusj di mana frekwensi aktifitas individu menjadi ukuran kwalitas iman. Maret 1985, saat itu memasuki usia ke 25 tahun, adalah awal masa hidup baru religius penulis. Baru dalam pemikiran, baru dalam pemahaman, baru memutuskan untuk memilih Yesus sebagai “Jalan satu-satunya” untuk pulang ke Surga. 25 tahun adalah waktu yang terlalu lama berada dalam satu ideologi religi tanpa pemahaman yang benar. Ini karena isi Kekristenan diterima sebagai warisan. Ketika penulis mulai mengetahui bahwa ada “Jalan-jalan yang lain” menuju ke Sorga, keraguan pun muncul “apakah jalan yang sedang dijalani sekarang” memang menuju Sorga?! Jangan-jangan salah pilih jalan…Bisa tidak sampai ke Sorga, celaka... ! Lebih celaka dan konyol… Jika akhirnya mengetahui bahwa Sang Khalik memang menyediakan “Jalan yang benar” untuk pulang ke Sorga. Kenapa pulang? Karena manusia memang berasal dari sana, dari Sorga (bnd.Filipi 3.20).­ Mencari tahu untuk memutuskan pilihan adalah langkah terbaik. Apalagi tersedia sumber-sumber utama, autentisnya dan akurasinya diterima oleh umum, dari “Jalan yang lain” itu untuk diteliti. Dari sisi teologi masing-masing agama, jalan itu benar dan ok-ok saja, sehingga manusia bisa terjebak DALAM PEMIKIRAN “Bukankah Tuhan Allah itu Esa, berarti semua agama-agama itu adalah jalan pulang ke Sorga yang disediakan Tuhan ALLAH. Agama yang manapun dipilih seseorang akan tetap membawanya ke Sorga!” Benarkah?! Pada akhirnya penulis rnenemukan ada beberapa dogma yang dimiliki semua “jalan itu.” Semua jalan itu tujuan akhirnya adalah “Kehidupan di sorga”. Masing-masing Pemilik jalan memilih dan mengutus oknum tertentu untuk memberitahukan bagaimana caranya berjalan di jalan yang disediakannya.

Alkisah....

Adalah PUSOR, Seorang suku Batak kelahiran Jakarta, keturunan marga berasal dari pulau Samosir, tepatnya PANGURURAN, ingin pulang ke Bonapasogit setelah sekian puluh tahun hanya tahu PANGURURAN lewat cerita orang-orang, mulailah dia mencari tahu bagaimana, dari mana jalannya, berapa lama perjalanan agar sampai ke Pangururan. Semuanya informasi tentang Pangururan diperlukan agar persiapan mudik ini benar-benar terencana dengan baik dan berjalan lancar nantinya.

Suharto asal Semarang, adalah orang pertama yang ditanyai menjelaskan;

Naik pesawat dari Cengkareng, lalu dari bandara Medan naik Taksi ke terminal amplas Medan, selanjutnya tanyakan pada orang terminal naik apa ke Pangururan”.

Jimmy Kaunang asal Menado memberi informasi;

“Dari Tanjung Priok naik kapal, sampai di Belawan naik bus ke terminal Amplas, selanjutnya naik mini bus ke Parapat, di Parapat tanya orang situ bagaimana nyebrang ke Samosir…trus ke Pangururan!”

Kang Ibing asal Bandung, mengatakan;

“Dari Pulo Gadung naik bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), turun di Suntan, lalu naik bus lagi ke Parapat, trus naik kapal fery dari Ajibata, nanti tanya orang-orang di fery bagaimana caranya ke Samosir”.

Antasari asal Jakarta menjelaskan;

“Dari Jakarta naik mobil pribadi, di Merak menyebrang dengan kapal fery...trus melalui trans Sumatra sampai ke Parapat, dari Parapat nyebrang naik kapal Fery ke Tomok, sampai di Tomok tanyalah orang-orang situ mana jalan menuju Pangururan!”

Linggom Simbolon, asal Pangururan yang menetap di Jakarta menerangkan;

“Banyak jalan kalau mau ke Pangururan, bisa dengan mobil pribadi, bisa dengan naik pesawat, bisa dengan naik bus bahkan bisa jalan kaki...” Yang paling cepat naik pesawat ke Medan 2 jam perjalanan, dari bandara Polonia Medan naik taksi ke Ajibata Parapat, 3 jam perjalanan. Dari Ajibata naik kapal Fery atau kapal pribumi ke Tomok, 50 menit perjalanan. Dari Tomok naik oplet ke Pangururan, 90 menit perjalanan. Jadi dari Jakarta ke Pangururan butuh waktu lebih kurang 7 jam 30 menit. Selamat jalan...!

Menurut PUSOR, semua keterangan tentang jalan yang diberitahukan kelima temannya sama-sama mengarahkan ke Pangururan. Namun dia tidak bisa mengikuti semuanya, karena tidak mungkin sekaligus naik bus, pesawat, kapal laut dan mobil pribadi. Dia harus memilih hanya satu jalan dari yang banyak itu. Keputusan ada ditangannya sebab dia yang akan menjalani jalan itu. Pertimbangan yang masuk akal untuk memutuskan adalah “keterangan yang akurat, yang dapat dipercaya, tentang jalan ke Pangururan tentunya dari orang yang berasal dari Pangururan sendiri...” Dan dia memilih keterangan Linggom Simbolon karena dia berasal dari Pangururan!

Dalam mencari tahu tentang “Jalan Yang Lain” itu, penulis menemukan bahwa dari kelima utusan pembawa keterangan jalan ke Sorga itu hanya SATU yang BERASAL dari Sorga yaitu, YESUS. Sedangkan keempat utusan lainnya berasal dari dunia ini juga. Maka akhirnya penulis memutuskan memilih YESUS KRISTUS sebagai jalan untuk pulang ke Sorga karena hanya Yesus utusan TUHAN ALLAH yang berasal dari Sorga, sudah pasti keteranganNya tentang bagaimana Jalan ke Sorga sangat akurat dan tepat tujuan. Penulis sungguh yakin tidak salah pilih. Garansinya adalah pernyataan Yesus yang tegas “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 3:16 ). Apakah pilihan Anda sekarang atas "Jalan Pulang ke Sorga" adalah keputusan yang berdasarkan pemahaman atau hanya sebagai warisan orangtua?! Persoalan iman adalah keputusan pribadi bukan sekedar warisan dari orangtua!! Belum terlambat untuk memperbaharuhi pemahaman. Ingat..!! Iman bukan warisan!! Iman timbul oleh pendengaran (Roma 10:l7). Apa yang didengar kemudian dipahami dan dijalani. Banyak jalan menuju ke Roma, Benar…!! tapi anda harus memutuskan pilihan untuk satu jalan saja dari yang banyak itu. Perkara ini super penting, karena itu pergumulkan dalam-dalam. Jika sudah memilih dan menjalaninya sampai akhir tidak ada kesempatan kedua jika akhimya terbukti anda salah pilih jalan !!.

Kisah PUSOR mudik ke Pangururan adalah logika sederhana yang dapat anda jadikan perbandingan untuk membuat keputusan….jika anda membutuhkan bantuan !!


 

 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 4 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID