Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Sistem Rapat Pendeta Dan Sinode AM, Bagian 1 PDF Print

 

Salut dan terimakasih kepada seluruh Jemaat GKPI Resort Pekanbaru, tentunya secara khusus bagi Panitia Rapat Pendeta GKPI XXXIV 2009 yang dimotori oleh Jemaat induk GKPI Palapa. Nota bene Panitia mampu berswadaya menggalang dana ± Rp. 160.000.000,- hampir mencapai estimasi anggaran yang dibutuhkan Rp. 170.000.000,-. Namun diakui oleh Ketua Panitia bahwa dana yang terkumpu 40%-nya merupakan dana talangan dari seorang warga jemaat GKPI Palapa yang diganti jika PEMDA merealisasikan bantuannya.

Dalam Pelaksanaan hajatan besar di GKPI ini, Panitia begitu solid dan kompak sejak hari pembukaan 09 Maret sampai penutupan 12 Maret 2009 plus memberangkatkan seluruh peserta (kloter terakhir Sabtu, 14 Maret). Sampai-sampai ada istilah “ayam goreng campur senyumdan “kopi campur senyumatas keramahan ibu-ibu seksi komsumsi saat penyajian.

Kekurangan justru terjadi dari kalangan peserta-semua pendeta dalam mengikuti rapat-­rapat sejak hari pertama sampai penutupan. Hal ini terungkap saat Ketua Panitia memberi laporan pada hari penutupan. Ketua Panitia melaporkan bahwa seluruh peserta yang hadir ada 179 Pendeta dari seluruh Indonesia. Ironisnya masih dari laporan Panitia pada hari pertama peserta yang absen berjumlah 31 orang, pada hari kedua absen 51 orang dan hari ketiga peserta yang absen mencapai 61 orang. Jadi angka 179 hanya pada saat pembukaan. Hal ini terjadi karena para peserta ada yang mengunjungi keluarga bahkan ada yang sudah pulang pada hari kedua dan pertengahan hari ketiga.

Acara rapat berlangsung marathon tanpa istirahat siang. Akibatnya pada rapat-rapat setelah makan siang banyak peserta yang mengantuk dan memilih beristirahat di kamar secara diam-­diam. Ada juga yang keluar ruang rapat dan “rapat kelompok informal” di ruang makan. Jumlah peserta rapat yang besar otomatis menciptakan suasana tidak kondusif untuk memfokuskan perhatian. Banyak peserta yang datang, duduk, dengar dan diam. Bahkan beberapa orang cenderung untuk berbincang-bincang dengan peserta di sekitarnya pada saat rapat berlangsung. Mungkin inilah yang dimaksud oleh beberapa peserta sebagai “wada konsultasi plus reuni” sesama pendeta atau lebih tepatnya sebagai momen reuni semata, melepas rindu. Betapa mubazir dan mahalnya untuk suatu reuni!.

Rapat Pendeta kali ini memberi nilai plus khususnya bagi penulis karena ada beberapa hal yang baru. Misalnya untuk pembahasan point demi point materi rapat dilakukan “ketuk palu” tanda disetujui ataupun ditolak. Di samping itu penulis pulang dengan membawa harapan yang lebih baik jika nanti memasuki masa pensiun karena rapat menyetujui ``Pelaksanaan Persembahan Khusus di seluruh jemaat GKPI bagi setup pendeta yang meninggal dalam tugas dan bagi pendeta yang akan Pensinn". Tentu saja usul ini disetujui karena peserta rapat semuanya adalah para pendeta yang langsung merasakan dampaknya, entah bagaimana reaksi warga jemaat ?.

Yang sangat a lot adalah saat membahas Sistim Sentralisasi Keuangan (SSK.). Menurut informasi peserta, jemaat-jemaat keberatan dengan SSK ini karena angka 50 : 50 yang artinya, 50% dari seluruh keuangan masuk kas jemaat dan 50% disetor ke Kantor Pusat. Dari Pantauan penulis ternyata jemaat yang menolak SSK adalah jemaat-jemaat yang besar keuangannya. Sedangkan jemaat yang keuangannya kecil dan pas-pasan bahkan minus, menyambut gembira SSK ini karena harapan akan terjadinya subsidi silang.

Dar I rapat pendeta ke rapat pendeta yang sudah berlalu penulis mengamati bahwa peserta yang berinteraksi pada setiap session selalu yang itu-itu juga orangnya. Karena itu ketika membaca "wawasan" Pemred SGKPI "MENYONGSONG RAPAT PENDETA GKPI 2009" di edisi Pebruari 2009 penulis merasa mendapat " pendukung" untuk menyampaikan kepada semua teman-teman peserta rapat tentang usul perubahan Sistem Rapat Pendeta dan Sinode Am Kerja GKPI. Namun terasa ada yang luput dari perhatian Pemred pada wawasannya itu. Padahal yang terluput tersebut sudah pernah penulis diskusikan dengan Pemred ketika sekamar di penginapan saat SAK GKPI VII 2008 berlangsung di Ciloto-Bogor. Topik diskusi pada adalah PEMBAHARUAN SISTEM RAPAT PENDETA den SINODE AM KERJA GKPI Secara spontan Pemred bertanya : Kenapa di perbarui ? Apanya yang diperbarui? Apa manfaatnya diperbarui bagi GKPI? Menjawab pertanyaan Pemred di atas penulis lebih dulu mengajaknya berkilas-balik mengenang , tepatnya menganalisa beberapa event RP dan SAK yang pernah kami ikuti. Kesimpulanya : pemborosan dana, peserta yang terlalu banyak yang berdampak kurangnya atensi serta minimnya interaksi para peserta, pemanfaatan waktu rapat yang tidak efesien, ketidak-jelasan basil rapat setiap session. Kenapa bisa begitu? Demikian pertanyaan Pernred di session II diskusi kami.

Pemborosan Dana.

Semua warga GKPI terlebih Panitia RP dan SAK tahu bahwa dibutuhkan dana yang besar untuk menyelenggarakan dua event di atas. Mulai dari transportasi peserta dari tempat asal, penginapan, komsumsi den pengadaan berkas materi rapat. Besarnya dana tidak dapat dihindari karena panitia dan pesertanya memang samgat banyak. (Ingat SAK GKPI 2008 yang menghabiskan dana lebih dari 1 Milyar rupiah!!).

Peserta yang Terlalu Banyak.

Para peserta menerima bahan materi rapat setelah tiba di tempat justru mengakibatkan kurang siap mengikuti rapat demi rapat. Akibatnya banyak peserta yang hanya datang, duduk, dengar dan diam, tanpa kontribusi pemikiran apapun sebagaimana utusan jemaat yang diharapkan menyampaikan aspirasi warga jemaatnya. Sebagian malah memilih keluar ruang rapat untuk ' pasombu sihol " dengan sesama peserta. Bahkan jika panitia kurang ketat maka ada peserta yang memanfaat waktu rapat untuk jalan-jalan atau mengunjungi keluarganya. Dari hari pertama sampai hari penutupan hanya segelintir peserta yang aktif merespon rapat, bahkan cenderung yang itu-itu raja orangnya dari tahun ke tahun.

Pemanfaatan Waktu Rapat tidak Efesien.

Dalam setiap RP dan SAK pembahasan Tata Tertib Persidangan selalu menyita waktu setengah hari. Padahal Tata Tertib Persidangan cukup dibahas satu kali di awal periode dan disahkan untuk masa berlaku selama satu periode kepengurusan, tidak perluh dibahas setiap RP dan SAK.

Yang paling banyak menghabiskan waktu adalah pada saat nara sumber membacakan makalah materi rapat, sehingga waktu bagi peserta untuk menanggapi tidak cukup tersedia, make rapat pun terkesan terburu-buru. Akibatnya pembahasan makalah tidak pernah mencapai hasil yang maksimal.

Waktu yang terbatas tersebut masih dikurangi lagi dengan adanya beberapa ceramah yang sebenarnya tidak cocok pada kedua event ini. Sebenarnya ceramah cukup diberikan oleh Pimpinan Pusat yang paling paham tentang GKPI ketimbang penceramah dari luar yang hanya sekilas mengenal GKPI. Sehingga Pimpinan Pusat tahu ceramah yang bagaimana yang dibutuhkan untuk peningkatan pelayanan di GKPI. Sementara wadah ceramah untuk pembinaan para pelayan GKPI telah ada dan pernah dilakukan di Tornok, Samosir.

 

 

Bagian 2

 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 4 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID