Monday 06th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

“Pelean ias Niroha” Dari Kaca Mata Awam” PDF Print

 

Sebuah cerita “ Ai dang ala ni godangna ias ni roha ni na mangalehon i do dibereng Tuhan i, songon namabalu na mamelehon sapeser i “

Demikan kata sebagian orang ketika berapologi tentang persembahan, apalagi ketika diingatkan/dibicarakan tentang jumlah materi persembahan tersebut. Suatu kali seorang pengkhotbah dalam siraman rohaninya yang prikomnya tentang persembahan, membuat sebuah ilustrasi tentang percakapan diantara uang. Uang seratus ribu dan lima puluh ribu merasa senang dan bangga karena biasanya dikanongi dan dibawa oleh orang kaya ke mall naik pesawat, beli barang-barang mewah dan tempatnya pun selalu rapi serta dijaga dengan baik. Sementara uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu merasa biasa-biasa saja karena sudah terbiasa ada di dompet orang kebanyakan, kaya atau miskin. Bisa beli barang mahal atau pun murah. Yang bercerita sedih adalah uang lima ribu karena semakin tidak berharga lagi. Bahkan anak sekolahan sudah berani berkata “Cuma lima ribunya?“ ketika dia diberi uang lima ribuan oleh orang tuanya. Namun yang paling menyedihakan adalah cerita uang seribu, karena biasanya ada di kantong orang-orang miskin. Kalau pun suatu saat ada di kantong orang kaya maka uang tersebut cepat-cepat dibelanjakan. Ya..., uang seribu memang hanya ada pada orang miskin, tukang semir, tukang parkir, pemulung, dan lain-lain yang memang pasaran bayarannya adalah uang seribuan. Ada satu hal lagi yang membuat uang seribu sering bergundah gulana ternyata “orang kaya” pun ketika mau memberikan persembahan, masih mau juga mecari-cari tukaran seribu dari dompetnya padahal dalam dompet tersebut banyak tukaran yang lebih besar. Bahkan kadang sebelum dipersembahkan uang seribu sering pula diremas kadang lusuh bahkan hampir tidak kelihatan nomornya. Hanya satu kebahagian uang seribu yakni setelah selesai kebaktian, ketika dia elus-elus , dibersihkan dan dirapikan oleh para penatua di bilut parhobasan. Cuma disini kami merasa diperlakukan dengan baik, nasib....nasib...., kata uang seribu.

Khotbah tentang uang alergikah kita????

Fakta memang menunjukan bahwa berbicara tentang uang persembahan, apalagi dari mimbar khotbah, sering dirasa kurang pas oleh sebagian orang. “Na mata hepengon do huroha panditaan”, demikan bisa muncul komentar bila penghotbah bicara tentang uang, apalagi sempat menyinggung jumlah materinya. Sebenarnya hal ini menjadi kontra diktif. Di satu sisi, sesuai dengan tuntutan ekonomi, kebutuhan, dan dinamika kehidupan kita sangat membutuhkan uang dan dengan sendirinya juga harus berbicara tentang uang di partangiaan sektor di sekolah minggu, minggu dewasa, pesta huria dan lain-lain. Bisakah kita membangun gedung gereja yang megah tanpa uang? Bisakah kegiatan adminitrasi gereja berjalan dengan dengan baik tanpa uang? Bisakah pendeta kita bekerja dan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya tanpa uang ? atau bahkan pernyataan yang paling sederhana; bisakah seorang pendeta melayani dengan tenang sementara dapurnya “tidak bisa lancar?” Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan uang. Dan salah satu sumber terbesar dari pemasukan/uang tersebut ke kas jemaat adalah PERSEMBAHAN dengan segala jenis dan bentuknya. Sementara pada sisi lain banyak diantara anggota jemaat yang merasa risih ketika uang atau persembahan sudah dibicarakan apalagi melalui khotbah di mimbar.

Kembali pada hal persembahan ias ni Roha, (kita tidak mempermasalahkan istilah ias ni roha atau roha na ias-kedua kita anggap sama-sama benar) mari kita menjenguk hati kita yang paling dalam kita membuat perhitungan sederhana (ini pun kalau kita ingin membuat sang janda miskin sebagai tolak ukur). Sepeser yang menurut cerita alkitab adalah KEHIDUPAN SELAMA SATU HARI. Kalau mau jujur bukankah harga nasi campur saja paling murah lima ribu rupiah sekarang? dan kalau makan tiga kali bukankah sudah ada lima belas ribu rupiah hayo persembahan siapa yang sudah lima belas ribu rupiah?? dan bagaiman pula dengan orang-orang yang lebih mampu yang kadang makan di restoran mewah yang bisa sampai dengan harga ratusan ribu? dan bahkan contoh ini pun sebenarnya belum secara utuh mewakili kehidupan satu hari ini masih sebatas makanan. Bukankah kehidupan satu hari kita tidak hanya makan dan minum bagaimana dengan kesehatan, pakaian, rumah, olah raga, dan lain-lain?. Kita tentu tidak mau membuat perhitungan matematis namun perlu juga kesadaran bagi ikta semua agar kita benar-benar memaknai “Ias ni roha” bukan sebagai atau menjadi pemaafan/alasan agar kita bisa memberi persembahan sesuai selera kita tanpa rasa tanggung jawab akan roda kehidupan gereja secara utuh tentunya termasuk dengan segi keuangannya.

Dalam hemat penulis maka makna ias ni roha bukan hanya terbatas pada “berapa yang mau kita beri dengan hati tulus iklhas tetapi juga “berapa yang dapat kita berikan atau persembahkan sesuai dengan kemampuan kita dengan hati yang tulus iklhas sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan sebagai ujud nyata tanggung jawab kita kepada kehidupan geraja”.

Persembahan kita untuk apa dan siapa?

Tanpa bermaksud mencampuri bagaimana pembagian atau peruntukan dari seluruh persembahan kita tersebut diatas, karena penulis sendiri kurang paham dan sangat awam di bidang itu, atau menentukan berapa yang sebaiknya dipersembahkan oleh siapa, tetapi penulis hanya menyampaikan pendapat secara awam bahwa persembahan kita yang harus diberikan dengan tulus dan penuh tanggung jawab dan sesuai kemampuan sebagai ucapan syukur atas anugerah Tuhan maka hemat penulis bahwa uang persembahan tersebut dipergunakan untuk seluruh kegiatan gereja fisik atau non-fisik, mulai dari aras jemaat, resort, wilayah, sampai ke pusat, bahkan keluar dari ranah GKPI yang berarti sebagai sesama tubuh Kristus GKPI tidak boleh hanya memikirkan GKPI AN SICH. Jadi siapa yang bertanggung jawab atas seluruh keperluan atau biaya tersebut? jawabnya adalah setiap pribadi warga jemaat. Bila kita sudah memberikan persembahan secara tanggung jawab, maka kita yakin pasti akan “ada persediaan di rumah Tuhan”, dan ketika persediaan sudah memadai maka mengembangkan “Gereja” ke dalam dan keluar, fisik dan nonfisik bukan lagi hal yang sulit. Dan pada pelayanpun, termasuk pendeta, akan lebih bersemangat “mengelola” dan menyalurkan pemanfaatan persediaan tersebut. Bila sekarang ada wacana bahkan sosialisasi tentang sentral keuangan di GKPI bukankah salah satu tujuannya adalah untuk “mengisi persediaan di rumah Tuhan” dan memeratakan pendapatan para pelayan fulltimer, sehingga tidak ada lagi yang berebut ke tempat basah atau bertahan tidak mau pindah dari tempat surplus?” dan semuanya itu adalah tanggung jawab kita bersama sebagai warga gereja khusunya GKPI.

Mari, warga GKPI, kita memberikan persembahan yang tulus ikhlas dan bertanggung jawab sebagai ungkapan rasa suka cita atas penyelamatan Yesus Kristus dan sebagai wujud tanggung jawab terhadap GKPI sebagai tubuh Kristus, agar GKPI dengan pertolongan Tuhan kita sang raja gereja dapat berjalan melewati dan mengarungi lautan kehidupan dan semakin dapat menjangkau jiwa-jiwa yang masih terhilang nun jauh di sana. Tuhan Memberkati.


 

St. Drs. TS Samosir, Ur.Kom GKPI Di Kabanjahe.

 

 

Login Form



Polls

Besarkah pengaruh gereja bagi keputusan pemerintah?
 

Who's Online

We have 3 guests online

Berita Diakonia

Ruang Anak Sekolah Minggu




Powered by GKPI. Proudly Hosted by IndoServer.Web.ID